Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 September 2017

INONG BALEE


Cerpen Lomba Seni dan Sastra UGM ke-4 Tahun 2017

©Reni Nuryanti


Kau pikir, tiga kali menikah adalah sebuah kemenangan? Seperti kata mereka, baik di dunia maya maupun nyata. Sungguh, aku tak mau berkhianat pada dua lelakiku yang mati tanpa kepala. Aku sudah puas bercinta dengan nisan mereka. Tahukah kau, sesungguhnya aku tetap terluka, meski mereka sebut aku: Inong Balee.

“Kau jangan hiraukan mereka. Caci-maki bahkan fitnah, hanya menjadi iblis yang mengorak-arik pikiranmu. Kau harus menyingkirkannya, Keumalahayati!”

“Aku bukan Keumalahayati. Bukan! Jangan sebut nama itu lagi. Perempuan itu terlalu istimewa. Kau tahu, Zahra?” tanya Mariana sambil menyatukan bibirnya pada ujung telinga Zahra. Setengah berbisik dia bilang, “Keumalahayati hanya menikah sekali seumur hidupnya. Hingga tua tetap menjanda. Dialah sejatinya Inong Balee. Seluruh cintanya terkubur bersama jasad lelakinya. Sedangkan aku? Kau tahu, kini aku akan menikah yang ke berapa kali? Tiga!” tegas Mariana sambil mengacungkan tiga jarinya.

Sejenak Zahra menatap tiga jari Mariana. Jari yang pernah berlumur darah. Jari yang pernah meremas-remas dua leher tanpa kepala. Jari yang kerap mengorak-arik isi bumi, mencari di mana kepala dua lelakinya.

“Turunkan, jarimu!” suruh Zahra.

“Kenapa? Kau jijik?” tanya Mariana.

“Aku justru mengagumi jarimu.”

“Karena pernah bersekutu untuk memainkan rencong? Juga bersaksi untuk menggorok makhluk yang menghilangkan kepala dua lelakiku?”

“Kau memainkannya dengan sangat apik. Sebab itulah, kusebut kau Keumalahayati. Meski kau tak hidup di masa Sultan Alauddin Riayat Syah Al-Mukammil, tapi Tengku Abdullah Syafei. Kau bukan keturunan Laksamana Mahmud Syah tapi seorang lelaki sederhana bernama Abdul Hamid. Kau tidak pernah tersentuh pendidikan Asykar Baital Makdis, tapi dayah[1] tua di Gampong[2] Lamreh. Kau tidak bertempur di Teluk Haru. Kau tidak melawan Portugis. Tapi kau berhadapan dengan bangsamu sendiri. Ini lebih sulit dibanding saat Keumalahayati menghujamkan belatinya ke dada Cornelis de Houtman. Tapi kau patut bangga. Dua lelakimu mati sebagai syahid. Jadi kau, janda yang patut mengenakan songkok Keumalahayati. Dan...”

“Apa?”

“Kau pemain rencong tanpa tanding. Aku masih teringat saat kau begitu beringas menelusuk belantara. Dan kau bergerak lincah di antara bebatuan. Lalu kau merayap cepat menaiki Bukit Ujung Batee Puteh. Dan di atas ketinggian, kau berteriak lantang, “Tanah rencong terlahir hanya untuk para pemberani. Bukan pecundang!” Saat itu, aku melihatmu sebagai Keumalahayati.”

“Cukup! Jangan sebut nama itu lagi!” tegas Mariana sambil menatap Zahra.

“Kau jangan picik, Mariana! Hanya karena kalkulasi pernikahan, kau ingin melumat nama perempuan agung itu?”

“Aku bukan picik, tapi sadar diri. Dia beda dengan aku.”

“Kau lupa dengan geliat sejarah? Bukankah setiap zaman, akan memunculkan tokohnya masing-masing. Lakonnya sendiri-sendiri. Dau kau, tokoh saat Aceh bergolak untuk menggapai damai.”

“Kau seolah menganggap hidup ini sebagai film?”

“Ha...ha...ha...” gelak Zahra.

“Kenapa kau tertawa?”

“Sebab kali ini, kau tidak salah bicara.”

“Jadi, kau anggap hidup ini hanya film?”

“Ya. Film di dunia nyata. Film yang luar biasa. Manusia tidak mampu menjadi sutradara. Tuhan penguasa cerita. Dan kau, aku, adalah tokoh yang kebetulan mendapat peran ironis. Dua lelakimu mati tanpa kepala. Kau pernah merasa ini hanya drama. Tapi hingga kini, kau hanya bisa bercinta dengan nisan mereka. Berkali-kali kau tabur soka, mawar, melati, dan kenanga. Kau bahkan melumuri dengan sari kasturi. Tapi setiap kali bercumbu, kau selalu bilang amis. Dan itu merajam kesadaranmu.”

“Cukup, Zahra! Jangan teruskan!” desak Mariana.

“Kau masih beruntung. Kau bisa menikah lagi. Sedangkan aku?”

“Cukup! Kau tidak dengar apa yang kubilang?” bentak Mariana sambil mengguncang bahu Zahra.

***

Zahra mengalah. Meski matanya tiba-tiba basah. Berkali-kali, ia menggosokkan tangannya di kedua mata hingga ujung dahi. Sementara Mariana, sejenak memaku memandangi latar rumahnya. Matanya menelisik serumpun rumbia yang tumbuh disudut jalan.

Mariana kemudian ke dapur untuk mengambil sepiring timphan[3]. Tak lama kemudian, ia kembali duduk di samping Zahra. Mariana menggamit satu timphan dan membuka kulitnya pelan-pelan. Kulit yang terbuat dari daun pisang muda itu, tampak menghijau berkilat minyak. Sangat tipis, sehingga harus hati-hati saat membuka.

“Jangan pikirkan pernikahanku. Ini hanya film,” kata Mariana sambil mengunyah timphan, “Yang nyata adalah ini,” lanjutnya seraya menyodorkan makanan itu kepada Zahra.

Zahra memaku. Ia sama sekali tak ingin melihat timphan.

“Makanlah, Zahra. Timphan yang membuat kita betah berlama-lama di Benteng Inong Balee. Bukankah kau paling suka membuatnya? Aku masih ingat saat kau begitu bersemangat meremas santan dan mengaduk ketan bercampur pisang raja. Lalu, kau mencicip srikaya serta parutan kelapa, dan memasukannya dalam adonan. Sejam kemudian, kau hidangkan timphan hangat untukku dan perempuan-perempuan malang itu. Sejak itulah, kau dikenal sebagai ratu timphan?” lanjut Mariana sambil bercanda.

“Aku tidak butuh timphan. Aku hanya ingin pengakuan. Mariana, adakah pernikahan yang menisbikan hubungan badan? Adakah lelaki yang tak peduli dengan seks? Adakah lelaki yang tahan untuk tidak memuntahkan air suci di gua garba? Adakah lelaki yang mau hidup dengan aku yang tak mungkin memberikan sejatinya pelayanan seks? Adakah lelaki yang menerima kekuranganku? Bukankah kelak, kesabaran mereka bakal dihadiahi bidadari yang senantiasa perawan? Mereka molek jelita dan setiap saat bisa membawa ke nirwana? Apakah alasanku layak dipertimbangkan Tuhan, Mariana?” tanya Zahra beruntun, yang seketika membuat Mariana tiba-tiba memuntahkan timphan dari mulutnya.

Mariana sejenak memejamkan mata. Ia seolah bertamasya ke masa lalu yang justru membuat darahnya tiba-tiba bergolak. Mariana menggigit bibir. Ia menarik napas panjang sambil memegangi dadanya yang terasa dihantam senjata laras panjang.

“Dadaku sakit, Zahra,” kata Mariana sambil menyandarkan kepala.

“Kau butuh obat?” tanya Zahra dengan nada datar.

Zahra paham dengan perasaan Mariana. Perempuan bermata biru mungkin sedang membayangkan dua lelakinya yang mati tanpa kepala. Atau bisa jadi, tiba-tiba teringat diasporan[4] yang akan segera menikahinya.

“Aku butuh nisan,” jawab Mariana sambil tersenyum datar.

“Kau yakin tak butuh diasporan itu?”

Mariana tersenyum tipis. Ia kembali memegangi dadanya.

“Kau masih ragu padanya?” desak Zahra, “Bukankah banyak orang bilang kalau dia pejuang? Bukankah dia juga dikenal sebagai penggagas perdamaian Aceh? Bahkan dia juga turut serta dalam perundingan Helsinki. Apalagi yang kau ragu? Bukankah ketampanannya juga sepadan dengan dua lelakimu? Atau...”

“Apa?” tanya Mariana tiba-tiba.

“Kau selamanya akan menjadi pengantin batu? Atau kau telah tabu bersentuhan dengan sekerat daging yang nikmatnya melebihi kopi Arabica?”

Mariana terdiam. Tiba-tiba ia berdiri dan berteriak sambil mengacak-acak rambutnya. Ia kemudian berlari menghampiri sebuah lemari dan membuka paksa isinya. Mariana kemudian mengeluarkan senjata laras panjang. Ia memegang erat. Memandangi pangkal hingga ujung. Seolah tak puas, Mariana kemudian melemparkannya. Ia kemudian membuka sebuah kotak kayu di bawah lemari. Kali ini di tangannya tergenggam belati. Mariana kemudian mengelus-elus dan mengacungkannya. Saat itulah, tiba-tiba Zahra berteriak histeris.

“Buang Mariana! Buang! Aku benci belati. Pecundang-pecundang itu telah melenyapkan mahkotaku dengan senjata busuk itu. Kau tahu, belati itu yang membuat aku tak akan bisa menikah. Kau paham kan, aku perawan tanpa mahkota?”

Mariana terdiam. Matanya masih terlihat merah. Ia seperti menyimpan dendam yang tak kunjung padam.

***

“Zahra, kau sungguh-sungguh tak ingin datang ke Benteng Inong Balee?”

“Tidak. Tak akan pernah.”

“Meski kau bakal berkalung gelar?”

“Persetan dengan gelar. Aku berjuang bukan untuk penghormatan.”

“Tapi kata orang, kau sudah berkorban segalanya.”

“Bahkan hingga mahkotaku juga ikut melayang. Iya, bukan?”

“Aku tidak ingin membahas itu. Kau kehilangan mahkota. Aku kehilangan dua lelakiku. Apa bedanya? Kau pikir, kehadiran diasporan itu mampu membuatku melupakan percintaan dengan nisan? Tidak akan pernah, Zahra.”

“Tapi sebentar lagi, dia akan menikahimu.”

“Dan sebentar lagi, aku akan menemukan dua kepala lelakiku. Bagaimana menurutmu?”

Zahra tak menjawab. Ia hanya memandang Mariana yang pagi itu berdandan lebih cantik dari biasanya. Mariana tampak menyisir rambut panjangnya. Ia kemudian menggelung dan meletakkan songkok di atasnya. Mariana kemudian mengenakan kerudung berwarna keemasan. Wajahnya terlihat berbinar, terlebih dengan bedak di pipi dan gincu merah saga. Tubuh langsingnya tampak semampai terbalut baju lengan panjang berwarna hitam dan celana panjang senada. Demikian, dengan sabuk berwarna keemasan yang melekat indah di pinggangnya. Kakinya juga terlihat lebih jenjang dengan sepatu hitam berukuran sedang.

“Kau seperti hendak perang?” tanya Zahra, “Bukankah Serambi Mekah telah lengang dari suara senapan. Bukahkah tanah rencong telah wangi dari anyir darah. Kini segalanya telah reda. Tak akan ada lagi perempuan memegang rencong, pistol, atau bahkan belati. Mereka akan menerima pinangan, berpesta dalam pernikahan, dan bergembira menimang bayi. Dan kau berhak untuk itu, Mariana,” lanjutnya sambil terus menatap wajah Mariana.

“Hanya ada pesta bersama dua lelakiku,” jawab Mariana seraya memasuki kamar. Sekejap ia ke luar sambil menenteng rencong. “Aku pergi dulu, Zahra. Demi Keumalahayati, kau harus datang ke Benteng Inong Balee pagi ini,” lanjut Mariana seraya meninggalkan Zahra.

***

Seperti digiring rasa penaran yang tiba-tiba menusuk pikiran, Zahra segera menyusul Mariana. Kakinya terus melangkah ke Benteng Inong Balee. Meski hatinya ragu. Akankah ia sanggup menatap benteng di Ujung Timur Teluk Krueng Raya itu. Di sana, saat bumi Aceh diguncang operasi militer, ia bersama para janda dan perempuan muda, kerap bersekutu dengan senjata. Mereka laksana hidup di zaman Keumalahayati. Bertahan di dalam benteng, demi berperan menjaga keamanan.

Zahra kerap mereguk damai bersama Mariana. Mereka duduk di puncak bukit. Alam terasa ramah, berdentang dengan ciutan burung perkutut dan burung hutan. Mata mereka tak bosan memandang tebing putih serta pepohonan yang tumbuh di sekitarnya. Begitupun pesona pantai Kreung Raya, sejenak membuat Mariana lupa pada dua lelakinya.

Keindahan itu seolah sirna dari kepala Zahra. Ia justru merasa tulang tubuhnya lumpuh seketika.

Tangan Zahra mengepal. Bibirnya gemetar. Matanya mendadak nanar. Ia kemudian menggamit rencong dan menggenggam erat. Zahra menatap senjata itu dari pangkal hingga ujung. Dipandangnya lekat lafaz La illaha illa Allah yang melekat di dua sisi rencong. Tiba-tiba, Zahra terisak sambil memegang selangkangan.

“Tuhan, aku perempuan tanpa mahkota.”

Zahra seperti diseret ke masa lalu. Kala di senja hari, lima orang lelaki berbadan kekar dan bertutup kepala hitam, menyeretnya ke bibir pantai. Tanpa ampun, tubuh Zahra di lempar ke bawah pohon. Zahra paham. Mereka pasti ingin memperkosanya. Tiba-tiba sebuah pilihan melintas di kepala.

“Bunuh saja aku!” teriak Zahra.

Lima lelaki itu tetap menyerbu tubuh Zahra. Tak ada suara, selain hati yang menyeru dengan seribu doa. Zahra tenggelam dalam mimpi tanpa ujung. Senja menjadi saksi. Saat sebuah belati dengan cepat mengiris dan membuang mahkota. Perhiasan itu, hanyut bersama air laut.

Zahra tersentak dari lamunannya. Tiba-tiba ia teringat satu nama: Mariana.

***

Zahra bergegas mendekati kerumunan perempuan di tengah Benteng Inong Balee. Canda dan tawa meriuhkan suasana. Mereka seperti berada di perjamuan rindu. Saling peluk, cium, bahkan tak sedikit yang saling usap air mata.

Tak jauh dari kerumunan perempuan, sekelompok lelaki berpakaian rapi tampak bercakap-cakap. Salah satu di antara mereka terlihat tersenyum bahagia. Zahra tak asing dengan lelaki berperawakan tinggi dan berkulit putih itu.

“Diasporan,” kata Zahra, “Tapi di mana Mariana?” lanjutnya.

Zahra berbalik arah. Ia kemudian pergi ke makam Keumalahayati. Biasanya, Mariana duduk bersimpuh sambil memeluk nisan.

Kali ini sepi. Zahra menatap sekitar. Matanya tiba-tiba terbelalak melihat seorang perempuan berdiri di puncak bukit.

“Tak salah lagi. Itu Mariana,” kata Zahra sambil berlari ke arah bukit.

Zahra berteriak. Mariana tak bergeming. Ia tetap berdiri menatap laut yang tenang. Di tangannya masih tergenggam rencong. Mariana kemudian hanya menoleh sambil berkata pelan.

“Zahra, aku sudah menemukan dua kepala lelakiku. Aku pastikan, akan ada pesta besar pagi ini. Pesta di dunia maya dan nyata.”

Tak sempat Zahra menimpali, Mariana dengan cepat menjatuhkan dirinya ke dasar laut.

“Mariana, apakah ini bukti bahwa diam itu lebih terhormat daripada bergelimang kata, tapi justru menjadi petaka,” bisik hati Zahra sambil menatap laut yang tiba-tiba bergelombang.


Aceh, 16 September 2017


[1] Pesantren

[2] Kampung

[3] Salah satu makanan tradisional Aceh.

[4] Orang Aceh yang tinggal di luar negeri dan masih mempertahankan adat serta kebudayaan Aceh.
Share:

Selasa, 01 November 2016

LANGIT UNTUK BINTANG


Seekor weling merayap pelan. Matanya menatap tajam mangsa yang ada di depannya. Perut kembang kempis menunjukan hasrat memakan korban. Ia terus berjalan sambil menjulurkan lidah. Pelan dan pasti. “Hap!” Mangsa dililit kuat-kuat meski terus meronta. Segala daya dikerahkan untuk melepas lilitan. Ia meronta dan terus meronta, hingga akhirnya:

“Tolong! Tolong ! Tolong!” 

Bintang berteriak hingga serak. 

Seketika tetangga lari blingsatan. Rumah kos berisi tiga kamar itu, seola
h guncang. Ranjang reot milik tiga penghuni serasa ambruk. Teriakan Bintang membuat nyamuk bringas beterbangan. Cicak memaku dalam remang. Kodok yang sedang berpesta di genangan air, sejenak terdiam. Suasana panik dalam teriakan ketakutan.

“Ada apa, Mbak Bintang?” 

Pintu kamar digedor berkali-kali. Mata Bintang terbelalak. Secepat kilat ia bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu. Dua tetangga kamar berdiri memaku. Yuni si gadis Batak erat memeluk guling. Sementara Mimin si ‘pujakesuma[1] sibuk merapikan rambut panjangnya. Wajah kusut mereka menunjukan kepanikan. 

“Aku digigit ular.”

“Hah! Mana? Mana? Mana ularnya, Mbak?” Tanya Yuni dan Mimin dengan nada bercampur kepanikan.

“Rupanya hanya mimpi. Bukan ular sungguhan,” jawab sambil menggaruk kepala.

Bintang terdiam. Mimin dan Yuni senyum-senyum sambil menggoda.

“Ularnya cakep apa tidak, Mbak?” 

“Ah, kalian! Masih saja bercanda.”

Bintang menutup pintu. Ia terdiam mengusir bimbang. Pikirannya melayang pada cerita-cerita yang kerap diumbar banyak orang. Tafsir mimpi digigit ular memang lekat di hati masyarakat. Tak jauh-jauh dari pertanda: jodoh telah tiba. 

Jarum jam bergerak ke angka empat. Berkali-kali Bintang menarik nafas panjang. Tak lama kemudian, perempuan berbadan ramping itu beranjak untuk bersuci. Bintang lalu tenggelam dalam lautan sajadah. Sejam kemudian, nama Tuhan disebut lewat alunan adzan. Bintang membuka hari dengan satu pertanyaan, “Apa maksud mimpiku malam ini?” 

Bukankah ular bukan pertanda kebaikan? Ia diyakini sebagai jelmaan jin. Ular masuk dalam mimpi buruk untuk menggelisahkan anak Adam. Bukankah begitu Nabi mengatakan? Bintang berpikir bahwa ular adalah pertanda jeratan. Bukankah makhluk melata ini gemar menjerat mangsa dengan juluran dan lilitannya. Mudah-mudahan, jerat kebahagiaan. Sebab Bintang memang sedang resah menunggu jodohnya. Akankah pertanda, laki-laki yang diimpikan telah datang untuk menjerat hatinya?

***

Dua bulan berlalu semenjak Bintang memberi amplop warna biru. Dua lembar surat terselip di dalamnya. Tertuang jawaban yang sebelumnya ditunggu laki-laki bernama: Fardan. “Aku menerimamu kembali, Far. Tetapi, mungkinkah kita mampu mereguk makna bahagia? Seperti Adam yang setia pada Hawa atau bahkan Muhammad yang menyejarah cintanya kepada Khadijah?” Kini Bintang menunggu. Kapan kiranya Fardan membalas suratnya. Sebab di akhir tulisan Bintang bilang, “Aku menunggu jawabanmu.” 

Dua bulan berlalu. Fardan belum memberi kepastian. Padahal saat terakhir berjumpa di Yogyakarta ia bilang, “Bintang, maukah engkau menerimaku kembali. Kendati waktu dan jarak sempat memisah?“ Tak perlu banyak waktu untuk bilang: “iya”, sebab Bintang masih berharap pada Fardan. Namun harapan berubah ketidakpastian. Ibarat musim, hujan berubah kering. Kemarau. Tandus. Gersang. Bintang merasakan kibasan badai kebimbangan. Menunggu, biarpun menyakitkan. 

***

“Mbak Bintang, ada tamu.”

Suara lembut Mimin membuat Bintang berhenti menggores pena. Sejak kuliah, Bintang menempa diri di dunia menulis. Artikel, cerpen, novel, hingga buku sudah dibuatnya. Bintang menulis bukan sekedar memenuhi hasrat hobi. Lebih dari itu katanya, “Aku menulis untuk hidup. Hidup jiwa. Hidup hati. Hidup pikiran. Juga hidup perut.“ Bintang tak bisa bersandar pada penghasilan pas-pasan. Semenjak merantau ke Serambi Mekah sebagai dosen, ia memang harus ekstra berjuang. Gajinya tak sanggup untuk bayar kontrakan dan kebutuhan yang lain. 

Dosen: kertase sak dus, duwite sak sen[2], begitulah kiranya ungkapan yang tersemat untuk dosen muda di kampus swasta. Tapi bukan itu sebenarnya. Bagi Bintang, pengabdian yang dinaungi ketenangan, jauh lebih menghidupkan. Bergelimang materi bukan menjadi bukti menjadi manusia sejati. Sebab tujuan hidup adalah mengejar yang satu: keridhaan Tuhan. Apa, di mana, dan bagaimanapun, jika Tuhan ridha, maka yang terlekat adalah: kebahagiaan. 

Universitas Hasjimi bagi Bintang adalah lumbung pengalaman. Pahit-manis hidup dalam perbedaan budaya, membuatnya harus bertahan. Dalam bimbang yang kadang menyerang, Bintang merindukan sosok kawan. Fardan adalah sandaran harapan. Namun waktu tak segera memberi jawaban. Haruskah Bintang berpaling, tak lagi memicingkan mata pada kumbang-kumbang yang datang?

“Siapa, Min?”

“Dua lelaki, Mbak. Penampilannya sangat rapi.” 

Bintang digerus rasa penasaran. Ia menghampiri Mimin. Hatinya terus menoreh tanya, “Siapa ya?” Tak lama kemudian, ia berjalan tergesa. Mata Bintang terbelalak saat membuka pintu. Dua laki-laki berbadan tegap dan berkulit putih duduk di kursi. Mereka mematung melihat Bintang. Kikuk, itulah yang dirasakan keduanya. Lelaki bernama Langit dan Panca itu saling pandang. Sementara Bintang salah tingkah dengan raut muka memerah.

“Maaf, ini dengan Mbak Bintang?” 

Panca, menyapa dengan nada seolah tak percaya. Bintang jadi bingung, kenapa laki-laki yang sebelumnya pernah ia kenal lewat cerita mahasiswanya itu, seolah heran melihat dirinya. Bintang memang tahu sedikit tentang lelaki yang belum dua tahun menyandang gelar duda ini. Istrinya meninggal saat melahirkan anak kedua. Kabarnya, Panca sedang mencari pengganti sang istri, perempuan tercantik di kampungnya yang juga anak pengusaha. 

Kepergian sang istri, membuat Panca kehilangan pegangan. Ia kasihan melihat anaknya yang tumbuh tanpa dekapan seorang ibu. Panca terpaksa menitipkan gadis mungil bernama Syifa itu kepada ibunya. Ia sendiri bekerja sebagai penyuluh di Gampong[3] Rayeuk. 

Empati tentang Panca, memang pernah merasuk ke jiwa Bintang. Saat itu mahasiswanya bilang, “Ibu, menikah saja dengan Pak Panca. Orangnya sangat baik.” Bintang memandang sesaat kepada lelaki yang dari kejauhan tampak sigap menjaga anaknya. Kejadian itu rasanya belum lekang dari ingatan Bintang. Sebab hanya seminggu berselang saat Bintang jalan-jalan ke balai kota. Kini, laki-laki bermata sendu itu hadir, tepat di depannya. 

“Iya, betul. Saya Bintang. Ada apa ya?”

“Saya sangat menyukai tulisan Mbak di koran Serambi. Kalau tidak salah, judulnya Khadijah; Cinta yang Tak Lekang. Saya berulang-ulang membaca dan merenungkannya.”

“Terima kasih sebelumnya, sudah baca tulisan saya.”

“Ya, mungkin Mbak Bintang kaget dengan kedatangan saya dan Langit ke mari. Saya ingin bertemu langsung dengan Mbak. Barangkali, saya bisa belajar menulis. Almarhumah istri saya juga suka menulis. Hanya saja, tidak pernah dipublikasikan.”

“O, begitu. Baiklah, kita atur saja waktunya.”

“Begini saja, Mbak Bintang,” sela Langit dengan suara lembut.

“Ya, bagaimana Mas?”

“Setiap Jumat sore di pendopo ada pelatihan menulis. Bagaimana kalau Mbak ikut membagi ilmu di sana. Bang Panca juga bisa sekalian hadir.”

“Hemm…bisa juga. Kebetulan, kalau Jumat sore saya jarang ada kegiatan.”

***

Sebulan berlalu semenjak kedatangan Langit dan Panca. Bintang gelisah. Ia terngiang dengan e-mail Panca yang dikirimkan kepadanya.

“Mbak Bintang, bolehkah aku memanggil dengan nama: Bintang? Rasanya lebih akrab karena umur Bintang juga jauh lebih muda dari saya. Kita terpaut hampir delapan tahun. Bintang, aku hampir dua tahun menduda. Anakku menginjak usia dua tahun. Ia mendamba ibu. Aku sudah berusaha untuk memberi. Namun Tuhan belum mengamini. Anakku pernah melihatmu di toko buku. Saat itu, engkau tersenyum padanya. Ia girang. Ia senang. Seolah menyangka, engkau ibunya. “Papa, itu mama ya?” Suara cedalnya, Bintang. Aku tak sanggup. Aku tak kuasa mendengarnya. Aku ingin Nafisa hadir. Tapi itu tidak mungkin. Haruskah aku menggali kuburnya. Membuka kafannya. Aku terlalu cinta. Ia sempurna bagiku.” 

“Bintang, anggaplah aku pengemis atau bahkan gila. Tapi aku susah mencari cara. Bintang, kamu masih ingat Langit kan? Aku berharap, engkau menjadi pendampingnya. Dia baik lagi sederhana. Aku kenal dekat dengannya. Bahkan saat aku merasa hancur sejak kepergian Nafisa, Langit menampung kesedihanku. Bara semangatnya menghangatkan jiwaku yang beku. Berhari-hari aku meratapi nasib. Tapi Langit membuka pintu harapan: kehilangan seseorang tak berarti hilang segalanya. Setidaknya jika Langit bersamamu, Syifa bisa merogoh kasih sayangmu. Sebab aku tak pantas buatmu.”

Bintang terkejut membaca pernyataan Panca. Prasasti penerimaan yang sedang dipahat, hancur berkeping. Mungkin bagi Panca, Bintang tak lebih bersinar dibanding Nafisa. Apalagi posisi sebagai perantau, membuat Panca harus berpikir panjang. Terlalu banyak aral melintang. Doa berakhir pada satu kata: mundur. Bintang juga tak habis pikir, apakah Langit memang kado Tuhan untuknya. Sebab aneh rasanya, kenapa ia sanggup membuat Panca membuang perasaan padanya.

***

“Bintang, aku ingin meminangmu.”

Langit mengucap lembut lewat ponsel. Bintang terdiam. Ia menggantung jawaban. Bagi Bintang, Langit memang istimewa. Saat Panca mengajak ke kostnya, hati Bintang berdesir. Langit, guru muda yang baru dua tahun menyandang pegawai. Ia sosok sederhana yang setia menaiki cup 70. Panca tahu segala kekurangan hidup Langit. Bahkan katanya, “Bintang, engkau harus sanggup makan nasi campur garam.” Perkataan Panca membawa nilai tersendiri pada Langit. Tak bisa dipungkiri, keteduhan wajah Langit seolah jadi cahaya buat Bintang. 

Namun Bintang masih ragu. Ada Fardan di hatinya. Masih saja, nama laki-laki yang sudah dikenalnya sejak kuliah ini, nongkrong di ruang hatinya. Bintang bimbang dalam penantian. Sudah dua bulan suratnya dilayangkan. Tak ada tanda-tanda Fardan akan mengirim jawaban. Bintang mencoba menghubungi Fardan. Berkali-kali ia memencet nomor tujuan. Namun jawaban sungguh menyakitkan: “Nomor yang anda hubungi sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi.” Bintang tak putus asa. Ia tetap menunggu. Suatu hari Fardan akan memberi jawaban. Mungkin lewat panggilan atau sekedar pesan.

Hari berganti. Bulan berlalu. Fardan tak kunjung menghubungi. Bintang mulai berpikir, mungkin ini jawaban Tuhan atas segenap curahan hatinya. Hingga dua minggu kemudian, ia memberi kejutan pada Langit. Dalam hening malam. Saat manusia larut dalam kantuk. Saat badan membujur dalam mimpi. Bintang berucap pelan, “Mas Langit, aku menerima pinanganmu.” 

Bintang teringat pada mimpinya beberapa bulan lalu. Gigitan ular adalah jeratan. Langit menjerat hatinya untuk menerima hadiah yang dinanti perempuan: kepastian. Sejak itu, Bintang pelan-pelan membuang ingatan pada Fardan. Tak ada lagi tempat di hati, meski sehari setelah itu Fardan mengirim jawaban.

“Bintang, aku sudah beli sepeda motor baru. Aku bekerja keras demi memberi yang terbaik untukmu. Kamu kan tahu, aku hanya punya ‘astuti butut’. Mana mungkin sanggup membawa kita jalan-jalan keliling Yogyakarta. Aku berjanji pada diriku, akan menghubungimu jika motor impian itu sudah ada di tangan. Maafkan aku Bintang, jika membuatmu bimbang. Tapi percayalah, aku akan selalu setia untukmu.” 

Bintang meneteskan air mata. Bibirnya berucap lirih, “Terlambat.”  [selesai]

[1] Pujakesuma adalah sebutan untuk orang Jawa yang lahir dan besar di Sumatera.
[2] Ungkapan berbahasa Jawa yang artinya: kertas satu dus, uang hanya satu sen.
[3] Gampong adalah kata berbahasa Aceh yang artinya dengan kata: desa/kampong. 

Share:

Label

Arsip Blog

Artikel Terbaru