Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Januari 2018

Berguru pada Sangkan Paraning Dumadi: “Resep Jawa” untuk Bangsa yang Berkarakter


Pengantar: Tuhan dalam Sangkan Paraning Dumadi

Kawruhana sejatining urip
Urip ana jroning alam donya
Bebasane mampir ngombe
Umpama manuk mabur
Lunga saka kurungan neki
Pundi pencokan benjang
Awja kongsi kaleru
Umpama lunga sesanja
Najan-sinanjan ora wurung bakal mulih
Mulih mula mulanya
(Tembang Dhandanggula)

Tembang Dhandanggula adalah perlambang ungkapan sangkan paraning dumadi yang sangat dikenal masyarakat Jawa. Ungkapan ini menyemat pesan bahwa manusia hidup di dunia hanya sementara. Bagai minum seteguk air dan setelah itu sirna. Sebab itulah, mengolah hidup dengan sebaik-baiknya, menjadi jalan bagi manusia yang ingin memenangkan kehidupan. Kuncinya adalah berpegang pada Tuhan dengan mengolah hati agar selamat dalam pertarungan dunia.

Sangkan paraning dumadi
merupakan ‘pusaka kehidupan’ masyarakat Jawa yang disebut sipat kandel—pemberi dasar kekebalan, baik fisik maupun rohani kepada manusia[1]. Di dalamnya memuat empat hal yakni: nilai kehidupan, “sisi dalam” (nafs), tekad (iradat), dan kemauan keras[2]. Pada dasarnya, sangkan paraning dumadi merupakan ilmu olah hati. Dengan demikian, berdekatan dengan tasawuf yang dimaknai sebagai ilmu tentang pembersihan jiwa, perbaikan budi pekerti, serta pembangunan lahir batin dalam mencapai kebahagiaan yang abadi[3]. Dalam memperjalankan tasawuf, pengabdian kepada Tuhan adalah pondasi yang tak tergantikan[4].

Secara historis, ungkapan sangkan paraning dumadi muncul sebagai bentuk keterhadiran tradisi Islam dalam lingkungan masyarakat Jawa[5]. Ungkapan yang tercermin dari tembang Dhandanggula, menjadi wujud nyata bahwa Islam hadir menjadi jiwa dalam karya sastra Jawa. Termasuk di dalamnya: serat, suluk, babad, dan hikayat[6]. Karya sastra dalam bentuk naskah yang dianggap pusaka, menunjukkan cara masyarakat Jawa di masa lalu dalam mengonseptualisasikan pemikiran dan membangun teknologi sosio-kultural. Karya sastra—dengan demikian, menjadi cara untuk menyelesaikan masalah.

Sangkan paraning dumadi dalam hal ini menjadi produk pemikiran masyarakat Jawa untuk mengatasi persoalan yang ada. Internalisasi sangkan paraning dumadi bagi masyarakat Jawa, terlihat pada kata ‘Gusti’ untuk menyebut nama Tuhan. Gusti berasal dari kata: bagusing ati (hati yang suci). Kesucian hati sudah disinggung Nabi Muhammad dalam pernyataannya, “Di dalam diri manusia terdapat segumpal daging yang jika daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuh pemiliknya. Namun apabila rusak, maka rusaklah pemiliknya. Segumpal daging itu adalah hati.”[7] Hati dalam hal ini merujuk pada qalbu—“sisi dalam” (nafs) manusia yang menjadi tonggak pertanggungjawaban atas perbuatan selama hidup. Sebab Tuhan lebih tahu tentang apa yang ada pada “sisi dalam” manusia[8].

Kehidupan nyata pada dasarnya adalah cerminan “sisi dalam” manusia[9]. Di dalamnya, terdapat nilai-nilai kehidupan—yang jika dipahami, dihayati, dan diamalkan, akan melahirkan akhlak dan budi pekerti yang luhur[10]. Oleh sebab itu, “sisi dalam” ini harus dijaga sehingga lahirlah: hati yang suci. Kesucian hati adalah embrio lahirnya: pemikiran, ucapan, dan tindakan hidup yang mulia. Demikian pemahaman pada sangkan paraning dumadi, hanya dapat digapai jika manusia punya hati yang suci.

Kesucian hati dalam pemahaman sangkan paraning dumadi, dapat diraih jika manusia selalu: eling (ingat), waspada, serta gemar hidup prihatin. Tujuannya adalah supaya mampu hidup selaras dengan Tuhan, alam, dan manusia. Pada Tuhan, senantiasa berpegang. Pada alam, menjaga dan melestarikan. Pada sesama selalu menghargai, menghormati, dan memahami. Dari sinilah, manusia akan sampai ke samudra taqwa—saat ia ditempatkan paling mulia di sisi-Nya.

Ketaqwaan menjadi muara yang paling dicari manusia. Ia menjadi simbol keberhasilan dalam mengarungi kehidupan. Tuhan akan memberikan reward dengan mengangkatnya sebagai: kekasih. Pada posisi inilah dalam pandangan masyarakat Jawa, manusia berhasil mereguk makna sangkan paraning dumadi. Ia tahu dari mana berasal dan ke mana tujuan hidupnya. Sebagaimana asal, Tuhan juga merupakan tujuan kembalinya manusia.

Berpegang pada Tuhan merupakan keharusan. Demikian secara nyata dalam hidup berbangsa dan bernegara. Manusia sejatinya selalu butuh Tuhan. Saat lahir, tumbuh, lalu mati—Tuhan selalu mengiringi. Bayangkan jika manusia tak kenal Tuhan. Kehidupan bakal porak poranda. Sebab dimensi: cinta, damai, kasih, dan sayang—bersumber dari zat Tuhan. Ia menjadi pondasi karakter manusia yang beradab. Persoalannya adalah, manusia kerap mengesampingkan Tuhan. Bahkan bagi masyarakat Jawa, makna sangkan paraning dumadi bagai telah mati. Kalau begitu, ke mana bangsa ini hendak di bawa pergi?

Pembahasan

Eling, Waspada, dan Prihatin

Kata ‘eling’ melibatkan dua dimensi: eling pada Tuhan dan manusia. Dimensi ketuhanan memaknai eling pada asal kelahiran manusia (sangkaning dumadi) dan apa yang dilakukan di bumi dalam mencapai kelanggengan kehidupan akhirat (paraning dumadi). Sedangkan pada dimensi kemanusiaan, kata ‘eling’ merujuk makna: berbuat baik pada sesama, tanpa pamrih, dan jangan sombong atau takabur. Adapun kata ‘waspada’, mengarah pada pemahaman: mewaspadai hal-hal yang mencelakakan manusia, baik sifat, sikap, tindakan, maupun ucapan[11]. Sedangkan prihatin mengarahkan manusia untuk gemar hidup sederhana.

Implementasi nilai eling, waspada, dan prihatin, menjadi resep jitu dalam menumbuhkan karakter bangsa. Ketiganya menjadi kunci pembuka pintu rahmat Tuhan. Kondisi Indonesia yang carut-marut belakangan ini, dapat disembuhkan jika manusianya kembali pada kesadaran sebagai makhluk Tuhan. Dalam dimensi ini, manusia diperintahkan untuk menebar kedamaian dan kasih sayang.

Kesadaran manusia sebagai makhluk Tuhan, akan mengetuk pemahaman bahwa segala tindakan akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Oleh sebab itu, kehati-hatian dalam hidup menjadi sangat dibutuhkan. Aktivitas manusia dalam beragam segi, diharapkan tidak melukai, menyakiti, atau bahkan menghilangkan harapan hidup seseorang.

Dalam kecintaan manusia terhadap Tuhan, hatinya akan hidup sehingga timbul perbuatan yang luhur. Ia hanya akan berpikir dan bertindak jika benar-benar sesuai jalan Tuhan. Sebab Tuhan yang paling tahu makna dari setiap kejadian. Bahkan dalam Al Quran Surat Al Baqarah: 216 tertulis, “Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah Maha mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Pesan Al Quran sebenarnya sangat jelas. Manusia harus dekat dengan Tuhan agar gerak hidupnya senantiasa terlindungi. Namun sayang, mereka masih yang ingkar. Atas nama logika, bisikan hati dikebiri. Demi kebebasan, pikiran lebih diangungkan. Manusia pada akhirnya berpikir dan bertindak hanya dengan mengandalkan jasad (raga) semata. Peran ruh—tempat bermuaranya hati tidak disambangi. Akibatnya, manusia kerap menemui kebuntuan, kejenuhan, kejumudan, dan bahkan kerusakan diri.

Bencana Negeri, Bencana Hati

Bencana kian tumbuh di Indonesia. Bukan hanya berwujud alam, tetapi juga politik, sosial-budaya, dan bahkan pendidikan. Kondisi ini patut menjadi renungan. Bencana alam semisal banjir yang setiap tahun hampir melanda seluruh wilayah Indonesia, seharusnya tidak hanya disikapi secara teknologis.

Peran hati dan akal menjadi penting untuk membaca tanda-tanda alam. Apakah bencana hanya disebabkan oleh faktor geologis, atau ada faktor lain semisal teologis. Hal ini berhubungan dengan tindakan manusia yang tidak lagi menggubris perintah Tuhan untuk memuliakan alam. Lihat saja buasnya praktik pembalakan dan pembakaran hutan serta pembuangan sampah di sungai-sungai. Padahal telah tegas Tuhan mengingkatkan, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia.”[12]

Bencana juga terlihat dalam kehidupan politik. Peran pemimpin menjadi kurang efektif karena dilingkari oleh kepentingan elit. Mereka berperang untuk menunjukkan ego masing-masing. Akibatnya, rakyat justru kurang terperhatikan. Bahkan demi kepentingan tertentu, sikap ABS (Asal Bapak Senang) juga menjadi trend di setiap lini lembaga. Maka pada akhirnya menurut Syafii Ma’arif, yang muncul adalah mentalitas jongos. Lebih lanjut kata Ma’arif:
“mentalitas jongos ini tidak jarang diidap juga oleh sementara menteri. Demi menyenangkan bosnya yang kebetulan jadi presiden, menteri ini sering tidak begitu fokus dalam tugasnya karena mentalitas jongosnya mengarahkannya agar pandai-pandai mengambil hati sang bos. Akibatnya, kementerian yang dipimpinnya menjadi telantar karena pemborosan dana yang kemudian menjadi beban bagi penggantinya. Ini berkali-kali terjadi yang menyebabkan negara sering tertatih-tatih menata birokrasinya yang sampai hari ini belum juga sehat dan bersih.”[13]

Mentalitas jongos ini dengan ABS-nya, adalah virus jahat yang menjadi perintang untuk maju. Sebabnya adalah, sering berbicara tidak atas dasar fakta yang benar. Tetapi, seorang bos feodal justru menggandrungi virus semacam ini. Perkara bangsa dan negara tidak terurus dengan baik. Sosok manusia macam ini tidak pernah naik kelas dari posisi politisi menjadi negarawan. Inilah kekurangan Indonesia sejak menjadi bangsa merdeka tahun 1945[14].

Bencana politik juga berakibat konflik. Contoh hangat adalah pilkadal tahun 2017 di Jakarta. Sejak awal, pesta rakyat di wilayah ini sangat dilumuri oleh nuansa politik dan kepentingan elit. Munculnya Basuki Tjahaja Purnama yang biasa disapa Ahok sebagai salah satu calon gubernur, menimbulkan warna tersendiri. Tafsir spontannya terhadap Al Quran Surat Al Maidah ayat 5, menimbulkan perdebatan di masyarakat.

Persoalan agama, memang sangat riskan. Apalagi, jika sudah menyangkut ayat Tuhan. Pemerintah yang dianggap tidak tegas menangani kasus Ahok, semakin memicu reaksi frontal. Akibatnya, terjadi beragam demo. Tindakan ini sangat menguras energi, materi, dan pikiran.

Persoalan Ahok sebenarnya tidak harus menjadi konflik. Penyelesaian secara damai bisa dilakukan. Syaratnya adalah, jangan ada campur tangan beragam kepentingan. Masing-masing pihak bisa saling membuka hati. Manusia memang tidak ada yang sempurna. Sebab dimensi ini hanya milik Yang Kuasa.

Begitupun Ahok, perlu berhati-hati dalam bicara. Ia adalah pemimpin masyarakat. Sudah sewajarnya berkata santun dan bijak. Kata-kata bisa menjadi kekuatan, tetapi sebaliknya sangat berpotensi melemahkan. Seperti kata Anies Baswedan,“Kata-kata bisa mendekatkan sekaligus menjauhkan hubungan.” Sebab itulah dalam masyarakat Jawa terdapat ungkapan, “Ajining diri gumantung ana ing lati.” Harga diri seseorang terletak pada lidahnya.

Bukan itu saja. Sudah sewajarnya, seorang pemimpin memang harus waspada dengan rutin melakukan intropeksi diri. Sikap ini menjadi modal utama dalam pergaulan yang menjunjung tinggi perilaku utama (lakutama) yakni budi pekerti luhur. Seorang pemimpin harus mengutamakan mulat laku kautamaning bebrayan—hidup berdampingan dengan beragam perbedaan.

Selain politik, bencana juga melanda dunia pendidikan Indonesia. Munculnya kekerasan secara fisik, psikis, maupun seksual, semakin menimbulkan keprihatinan. Sangat ironis, karena kejadian ini bukan hanya muncul di tingkat pendidikan dasar dan menengah, tetapi juga pendidikan tinggi. Kejadian ini bukan hanya menyebabkan trauma, tetapi juga kematian.

Dalam dua tahun terakhir ini, tindak kekerasan semakin terlihat. Korbannya bukan hanya pelajar, tetapi juga pendidik. Pada 19 Juni 2016 misalnya, siswa SDN di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, tewas setelah dipukuli oleh teman sekelasnya. Ketika itu, guru sedang keluar untuk mengisi tinta spidol[15]. Sementara itu pada 9 November 2016, seorang pelajar SMP di Muba, tega menikam gurunya sebanyak 13 kali[16]. Kejadian naas juga melanda guru di sekolah SMK Negeri 2 Makassar. Pada 11 Agustus 2016, ia dipukuli oleh muridnya sendiri[17]. Lebih menyedihkan, pemukulan itu juga dilakukan oleh ayah si murid.

Pada tingkat pendidikan tinggi, tindak kekerasan juga kerap terjadi. Pada 3 Juni 2016 misalnya, muncul kasus pembunuhan yang menimpa mahasiswa bernama Rezky Evienia Samsul. Ia merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia Makassar Angkatan 2014. Mahasiswa ini tewas usai mengikuti pengkaderan di kampusnya[18]. Kasus yang sama juga terjadi di Universitas Islam Indonesia pada Januari 2017. Tiga mahasiswa meninggal saat mengikuti Pendidikan Dasar (Diksar) Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala). Kejadian ini diduga terjadi karena pemukulan yang dilakukan oleh senior[19].

Kesenjangan sosial-ekonomi juga menjadi gambaran bencana di Indonesia. Salah satu pemicunya adalah sikap mental manusia yang cenderung malas. Mereka enggan bekerja keras, bersaing, atau bahkan berkompetisi dan berprestasi. Manusia Indonesia seharusnya belajar pada nilai-nilai positif budaya lain. Sebagai contoh, jangan semata menyalahkan perantau bermata sipit. Mengapa tidak berguru kepada mereka dengan mengambil sisi-sisi harumnya semisal: disiplin, kerja keras, solidaritas, dan pantang menyerah?[20] Jika prinsip ini dipegang, niscaya manusia Indonesia akan menatap hidup lebih cemerlang.

Beragam bencana yang melanda Indonesia—tidak bisa lepas dari sikap manusia yang tidak lagi mau: ingat (eling) dan waspada. Manusia lupa bahwa alam dicipta bukan sekedar untuk dinikmati dan dikuasai. Ia adalah ‘alat’ dan ‘sahabat’ manusia dalam menjalani hidup (paraning dumadi). Ketiadaannya adalah sebuah keniscayaan. Demikian dalam pergaulan. Manusia kerap bertindak tanpa pikir panjang. Tanpa intropeksi dan mawas diri. Akibatnya, permasalahan hidup datang berganti. Terus, hingga manusia benar-benar mau kembali pada sikap: waspada. Pada hal-hal yang terlihat atau bahkan kasat mata.

Sederhana tapi Bermartabat

Keserdahanaan hidup, lebih mendekatkan manusia pada rasa syukur. Efeknya adalah berkah—sedikit merasa cukup dan banyak terasa lebih bermanfaat. Sikap hidup ini, akan menjembatani manusia untuk selalu berdekatan dengan Tuhan. Sebab kadangkala, bergelimang harta menyebabkan gersang hati. Bermegah-megahan menjadi pemicu kegelisahan. Kondisi ini terjadi ketika manusia mengingkari hasrat hati yang pada dasarnya adalah muara ketenangan. Dalam ketenangan itulah, cahaya Tuhan menerobos relung hati manusia. Dalam tahap ini, manusia akan sangat mudah menerima kebenaran.

Menilik dari kondisi bangsa Indonesia. Sepertinya, sikap hidup sederhana mulai luntur dari diri para pemimpin. Mereka pada umumnya lebih memilih penghormatan dan kemewahan. Bahkan demi mendapatkan keduanya, mereka berani menjual janji dan membeli belas kasih rakyat. Namun dalam perjalanan kepemimpinan, urusan duniawi lebih mendominasi. Sisi ukhrawi hanya muncul sebagai penghias. Segalanya menjadi pernak-pernik strategi politik. Untuk melanggengkan diri, para penguasa negeri bahkan terlena dan jatuh ke lembah korupsi. Penyakit ini menandai sikap mental pemimpin yang takut hidup sederhana. Sebab kemewahan selalu menjadi ukuran segalanya.

Para pemimpin bangsa seharusnya belajar dari para pendahulu. Kepada Haji Agus Salim misalnya. Dalam sikap dan tindakan hidup yang sederhana, ia tetap bermartabat. Seperti kata sahabatnya, Mohammad Roem, Haji Agus Salim tanpa rasa malu menjual minyak tanah dengan cara mengecer. Padahal saat itu, dia sudah pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri dan perwakilan tetap Indonesia di PBB. Bahkan saat ada acara di Yogyakarta, ia terpaksa membawa minyak tanah dan menjualnya di sana. Hasil penjualan minyak tanah itu, dipergunakan untuk menutupi ongkos perjalanan Jakarta–Yogyakarta[21].

Kesederhanaan hidup tidak membawa Agus Salim pada cela. Bahkan ia dikenang sepanjang zaman sebagai the grand old man. Tokoh seperti: Sukarno, Hatta, dan Syahrir sangat hormat padanya. Bukan saja karena Agus Salim adalah penguasa sembilan bahasa secara otodidak. Namun lebih dari itu. Prinsip hidupnya yang sederhana. Ia tak mau sedikitpun memakan sesuatu yang bukan haknya. Apalagi menyangkut milik rakyat. Agus Salim pantang memanfaatkan jabatan untuk meningkatkan taraf hidupnya. Sebab jabatan adalah amanah Tuhan. Bukan ladang mencari kemewahan. Seperti disinggung Schermerhom dalam Het dagboek van Schermerhoon, “Orang tua yang sangat pandai ini adalah seorang yang jenius. Ia mampu bicara dan menulis secara sempurna sedikitnya dalam 9 bahasa. Kelemahannya hanya satu: ia hidup melarat.”

Kesederhaan hidup sebagai pemimpin juga dapat direguk dari tokoh: Hoegeng, Mohammad Natsir, Bung Hatta, dan Sri Sultan HB IX. Hoegeng Iman Santosa pernah menjabat sebagai Kapolri, Menteri Iuran Negara (1965), dan Menteri Sekretaris Kabinet Inti (1966). Namun demikian, ia tetap dikenal sebagai sosok sederhana. Hoegeng pernah menolak pemberian mobil dinas dari pemerintah saat masih menjabat sebagai Menteri Sekretaris Presidium Kabinet. Padahal kala itu, Hoegeng mendapat dua mobil dinas untuk bekerja dan satu lagi untuk keluarganya[22].

Demikian halnya Natsir. Ia menjabat menteri penerangan tahun 1946 dan perdana menteri Indonesia tahun 1950-1951. Saat itu, Natsir hanya memiliki sebuah mobil De Soto tua yang susah payah dibelinya dengan menabung bertahun-tahun. Keluarga Natsir juga pernah mengalami kesulitan membeli rumah. Saat menjadi menteri bertahun-tahun, ia harus menumpang hidup di paviliun Prawoto Mangkusaswito. Ketika pemerintah RI pindah ke Yogyakarta, Natsir juga menumpang di paviliun milik keluarga Agus Salim. Baru akhir tahun 1946, pemerintah kemudian memberikan rumah dinas untuk Natsir. Bukan hanya urusan mobil dan rumah. Natsir juga dikenal hanya punya dua kemeja dan jas bertambal. Para pegawai kementerian penerangan pernah iuran membelikan kemeja baru. Hal itu dilakukan agar Natsir tampak pantas sebagai menteri[23].

Kesederhanaan juga dapat dipetik dari Bung Hatta. Di tahun 1950 kala menjabat perdana menteri RIS, Hatta pernah menolak menjemput sang ibu dengan mobil dinas. Apa kata dia? "Mobil itu bukan kepunyaanku. Mobil itu milik negara."[24] Bukan hanya Hatta. Sri Sultan HB IX juga dikenal sederhana. Hal ini terlihat saat ia menonton sepakbola. Seorang wartawan melihat Sultan HB IX memakai kaos kaki berlubang dan longgar. Ia bahkan melekatkan gelang karet untuk mengikat kaos kakinya[25].

Mereka—Agus Salim, Hoegeng, Natsir, Hatta, dan Sri Sultan HB IX adalah contoh teladan pemimpin bangsa. Mereka adalah pribadi-pribadi yang tetap eling, waspada, dan tetap gemar hidup prihatin dengan kepemimpinan yang dipegang. Eling bahwa kepemimpinan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadaan Tuhan. Waspada pada gemerlap kekuasaan yang bakal membutakan mata hati dan pikiran. Sebab itulah, mereka memilih laku prihatin demi menjaga martabat diri dan keluarga. Sadar ataupun tidak, mereka adalah punggawa bangsa yang berpegang teguh pada ungkapan sangkan paraning dumadi.
Andaikata para pemimpin bangsa saat ini teguh memegang ungkapan sangkan paraning dumadi—Indonesia akan menjadi bangsa yang terhormat. Miskin korupsi. Punya martabat yang tinggi. Namun dapatkah harapan ini digenggam? Sementara dalam keseharian, kenyataan menyajikan keterpurukan mental pejabat negara.

Dalam satu periode kepemimpinan, selalu menyisakan luka bagi rakyat. Korupsi, kolusi, dan nepotisme—masih bersarang di jantung bangsa ini. Rasa persatuan makin pudar. Kerjasama lembaga makin terasa hambar. Antar penguasa juga saling menjatuhkan. Pada tingkat pusat, wakil rakyat juga tak berfungsi secara kuat. Bahkan secara organisasi, partai hanya menjalankan kekuasaan semu. Mereka berkuasa bukan berlandaskan ideologi, tetapi kepentingan semata.

Sampai kapan Indonesia akan sembuh dari beragam penyakit mental? Atau sama sekali? Indonesia kelak hanya tinggal nama. Seperti kata Bung Hatta, “Rakyat hampir selalu lapar bukan karena panen buruk atau alam miskin, melainkan karena rakyat tidak berdaya. Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuntaian pulau di peta[26].”

Penutup

Sangkan paraning dumadi bukan sekedar ungkapan masa lalu yang dikenal masyarakat Jawa. Lebih dari itu, merupakan konsep yang mengandung: nilai kehidupan, “sisi dalam”, iradat, dan kemauan. Sangkan paraning dumadi yang mengajarkan manusia untuk selalu: eling, waspada, dan prihatin—merupakan ‘resep jitu’ dari Jawa untuk ‘menyembuhkan’ Indonesia dari sakit akhlak dan moral. Jika keduanya disembuhkan, bukan mustahil jika Indonesia akan tumbuh menjadi bangsa yang berkarakter.

Sangkan paraning dumadi merupakan bagian dari keunggulan budaya masyarakat Jawa. Buah dari perpaduan antara akal dan hati, dengan melandaskan Tuhan sebagai penyangga kekuatan. Sebab bagi masyarakat Jawa, Sangkan paraning dumadi itu sendiri adalah Tuhan. Dia yang mencipta dan menjadi tempat kembali. Jika Tuhan menjadi pegangan kehidupan—niscaya manusia mampu hidup berdampingan, memberi, berbagi, dan saling mengayomi. (***)


Daftar Pustaka

Al-Maghribi, A.M. (2011). Mengaji Al-Hikam; Jalan-Kalbu Para Perindu Tuhan. Terj. Fauzi Bahreisy. Jakarta: Zaman.

Dojosantosa. (1986). Unsur Religius dalam Sastra Jawa. Semarang: Aneka Ilmu.

Isa, A.Q. (2005). Hakekat Tasawuf. Terj. Khairul Amru Harahap dan Afrizal Lubis. Jakarta: Qisthi Press.

Maarif, A.S. “Antara Jongos dan Tuan”. Republika. 31 Januari 2017.

Noer, D. (1990). Mohammad Hatta: Biografi Politik. Jakarta: LP3ES.

----------. (2012). Mohammad Hatta: Hati Nurani Bangsa. Jakarta: Kompas.

Purwanto, B. (2006). Gagalnya Historiografi Indonesia Sentris?! Yogyakarta: Ombak.

Retnoningtyas, A. http://www.kompasiana.com/artyas/kekerasan-dalam-dunia-pendidikan_57667452f49273ad06fbfa41.

Roem, M dkk. (1982). Tahta untuk Rakyat: Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX. Jakarta: Gramedia.

Rosidi, A. (1990). M. Natsir: Sebuah Biografi. Jakarta: Girimukti Pusaka.

Shihab, M.Q. (2007). Secercah Cahaya Illahi: Hidup Bersama Al-Quran. Bandung: Mizan.

Suhartono. (2013). Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan. Jakarta: Keputakaan Populer Gramedia.

Sastroatmodjo, S. (2006). Citra Diri Orang Jawa. Yogyakarta: Narasi. Kepustakaan Populer Gramedia.

Tim Liputan Khusus Agus Salim. (2013). Agus Salim: Diplomat Jenaka Penopang Republik. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia Bekerjasama dengan Tempo. hlm. 56.

https://daerah.sindonews.com/read/1114777/192/mahasiswi-umi-tewas-usai-pengkaderan-calon-dokter.

https://daerah.sindonews.com/read/1130399/192/ayah-dan-anak-pemukul-guru-hingga-berdarah-ditetapkan-tersangka-1470888073.

https://daerah.sindonews.com/read/1154239/190/tikam-guru-13-kali-pelajar-smp-ini-belum-dites-kejiwaan-1478749483.

https://daerah.sindonews.com/read/1158555/22/mahasiswa-uii-tewas-saat-diksar-mapala1480191598.



[1]Suryanto Sastroatmodjo. (2006). Citra Diri Orang Jawa. Yogyakarta: Narasi. hlm. 69.

[2]Lebih lanjut mengenai: nilai kehidupan, “sisi dalam”, tekad, dan kemauan keras, simak penjelasan Quraish Shihab. (2007). Secercah Cahaya Illahi; Hidup Bersama Al-Quran. Bandung: Mizan. hlm. 48-492.

[3]Abdul Qadir Isa. (2005). Hakekat Tasawuf. Terj. Jakarta: Qisthi Press. hlm. 5.

[4]Abu Madyan al-Maghribi. (2011). Mengaji Al-Hikam; Jalan-Kalbu Para Perindu Tuhan. Terj. Fauzi Bahreisy. Jakarta: Zaman. hlm. 241.

[5]Dojosantosa. (1986). Unsur Religius dalam Sastra Jawa. Semarang: Aneka Ilmu. hlm. 25.

[6]Bambang Purwanto. (2006). Gagalnya Historiografi Indonesia Sentris?!. Yogyakarta: Ombak. hlm. 97-98.

[7]HR. Bukhari dan Muslim.

[8]Keterangan lebih lanjut, dapat dibaca pada Al Quran Surat Al-Isra: 25 dan Surat Al Baqarah: 255.

[9]Shihab, op.cit. hlm. 481.

[10]Ibid. hlm. 486.

[11] Sastroatmodjo.op.cit. hlm.79.

[12]Keterangan lebih lanjut dapat dibaca pada Al Quran Surat Ar-Rum: 42.

[13]Lihat Ahmad Syafii Maarif. “Antara Jongos dan Tuan”. Republika. 31 January 2017.

[14] Ibid.

[15]Atika Retnoningtyas. http://www.kompasiana.com/artyas/kekerasan-dalam-dunia-pendidikan_57667452f49273ad06fbfa41. Diakses pada 28 Februari 2017.

[16]https://daerah.sindonews.com/read/1154239/190/tikam-guru-13-kali-pelajar-smp-ini-belum-dites-kejiwaan-1478749483. Diakses pada 28 Februari 2017.

[17]https://daerah.sindonews.com/read/1130399/192/ayah-dan-anak-pemukul-guru-hingga-berdarah-ditetapkan-tersangka-1470888073. Diakses pada 28 Februari 2017.

[18]https://daerah.sindonews.com/read/1114777/192/mahasiswi-umi-tewas-usai-pengkaderan-calon-dokter. Diakses pada 27 Februari 2017.

[19]https://daerah.sindonews.com/read/1158555/22/mahasiswa-uii-tewas-saat-diksar-mapala1480191598. Diakses pada 28 Februari 2017.

[20]Ma’arif, op.cit.

[21]Tim Liputan Khusus Agus Salim. (2013). Agus Salim: Diplomat Jenaka Penopang Republik. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia Bekerjasama dengan Tempo. hlm. 56.

[22]Suhartono. (2013). Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan. Jakarta: Keputakaan Populer Gramedia. hlm. 65.

[23]Ajip Rosidi. (1990). M. Natsir: Sebuah Biografi. Jakarta: Girimukti Pusaka. hlm. 45.

[24]Deliar Noer. (2012). Mohammad Hatta: Hati Nurani Bangsa. Jakarta: Kompas. hlm. 56.

[25]Mohamad Roem, dkk. (1982). Tahta untuk Rakyat: Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX. Jakarta: Gramedia. hlm. 75.

[26]Deliar Noer. (1990). Mohammad Hatta Biografi Politik. Jakarta: LP3ES.hlm. 55.
Share:

Senin, 21 November 2016

Perempuan, Seks, dan Perang; Analisis dalam Pergolakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (1958-1961)

ABSTRAK

Tulisan ini membahas relasi antara: perempuan, seks, dan perang dalam pergolakan PRRI (1958-1961). Selama kurun tiga tahun pergolakan di Sumatera Barat, perempuan Minangkabau dihadapkan pada situasi dilematis. Dalam situasi rumit, sebagian perempuan ikut menjadi korban. Beragam kepentingan atas nama PRRI, menjadi tragedi tersendiri. Mereka mengalami intmidasi dari dua arah: pasukan PRRI dan APRI. Pada akhirnya, PRRI membawa perempuan dalam dua kelompok: mereka yang eksis dan tenggelam dalam konflik. Mereka yang eksis, menginduk ke organisasi politik atau mengikuti suami bergerilya dalam barisan PRRI. Sementara yang tenggelam, pasrah dengan situasi.

Perempuan yang kerap dianggap ‘nomor dua’ dalam sejarah, akan terlihat berbeda jika dilihat dalam pandangan yang bersifat komplementer. Dalam perang misalnya, sebenarnya peran perempuan bagi laki-laki tidak hanya terlihat dalam relasi politik-militer, tetapi juga psikologi dan sosial. Seks misalnya, adalah media yang menghubungkan peran perempuan terhadap laki-laki.

Perang yang menimbulkan kekerasan, secara psikologis mengakibatkan ketegangan psikis sebagai pengaruh kontraksi antara kegelisahan dan ketakutan. Laki-laki yang terlibat perang, baik di garis politik maupun militer, adalah subjek yang paling merasakan ketakutan. Dalam tahap akut, ketegangan ini akan memuncak tensinya dan menyebabkan ‘sakit.’ Rasa sakit ini salah satunya hanya dapat direduksi dengan seks. Secara psikologis, seks bukan hanya memberi nuansa kesenangan fisik, tetapi juga ketenangan batin. Relasi seks inilah yang secara langsung melibatkan perempuan. Dengan demikian, keterlibatan perempuan dalam sejarah tidak hanya dilihat dalam lingkup makro, tetapi secara detil dalam perang yang memunculkan mikrohistori.

A. Pengantar

Laki-laki tidak memungkiri bahwa perempuan adalah kekuatan. Pesona menggetarkan bernama: kematangan emosi dan keagungan spiritual adalah energi yang menguatkan perjuangan. Umar bin Khatab misalnya membahasakan, “Jadilah engkau singa garang di padang pasir pada siang hari dan jadilah bayi di pangkuan istrimu pada malam hari.”

Perempuan adalah daya psikohistoris yang melahirkan para pahlawan. Hamka, lewat kendaraan sastra menggambarkan, “Kedudukan perempuan ibarat tempat kapal bertambat—ialah hati yang terkadang rapuh oleh deburan ombak kehidupan. Pada perempuanlah hati yang bergolak kembali menepi dalam buaian ketenangan.”[1] Tidak ketinggalan, Anis Matta juga menulis, “Ini bukan ketergantungan, tapi kebutuhan yang tak dapat digantikan.”[2]

Pilihan perempuan untuk mengabdi kepada laki-laki, dengan demikian bukan menjadi sebuah kekalahan, tapi kemenangan sejati. Perempuan tidak harus menjadi laki-laki untuk mendapatkan kekuasaan. Dengan memanfaatkan dimensi kefeminitasannya, mereka akan mendapatkan kekuasaan di mata laki-laki[3].

Orang-orang besar dalam sejarah, menyerap energi kekuatan dari perempuan. Lihat misalnya Nabi Muhammad yang bersimbah dukungan dari Khadijah. Kehilangan Khadijah menjadi momentum kesedihan yang membuatnya berhijrah. Muhammad mengatakan:
“...Demi Allah, aku tidak pernah mendapat pengganti yang lebih baik daripada Khadijah. Ia yang beriman kepadaku ketika semua orang ingkar. Ia yang mempercayaiku ketika semua orang mendustakanku. Ia yang memberiku harta ketika semua orang enggan memberi. Dan darinya aku memperoleh keturunan yang tidak kuperoleh dari istri-istriku yang lain.”[4]

Besarnya pengaruh perempuan juga tampak dalam suasana perang. Situasi penuh ketakutan, adalah ‘lahan subur’ masuknya perempuan. Cinta yang lahir dalam pertautan seks, adalah obat paling ampuh untuk menurunkan ketegangan[5]. Dari sinilah, muncul ‘gugatan’ bahwa tidak selamanya laki-laki adalah pejuang, sementara perempuan menjadi pecundang. Tidak salah jika Elisabeth Badinter menulis, “Dalam perang perempuan terlihat lebih jantan, sementara laki-laki menjadi lebih feminin.”[6] Badinter menekankan bahwa perempuan, terutama yang sudah menjadi ibu, tidak hanya berpikir keselamatan diri dan suami, tetapi juga anak yang secara fisik bertautan dengannya.

Perang yang mengikutsertakan kekerasan, kerap menggilas ketenangan. Benar kata Marsana Windhu, “Perang bagaimanapun selalu membawa kerusakan yang luas dalam kehidupan manusia.”[7] Kebersamaan dan kehangatan keluarga, mendadak lenyap. Manusia beradu dalam kepentingan. Di antara mereka ada yang masih menyertakan keluarga dalam menapaki konflik, sebaliknya tidak sedikit yang meninggalkan. Fenomena ini pula yang terjadi selama konflik PRRI di Sumatera Barat. Sofyan M. Noor menulis bahwa pemberontakan PRRI ini termasuk sebagai salah satu perang saudara yang paling biadab di dunia.[8] Kekerasan mewarnai serentetan peristiwa yang mengantarkan Minangkabau pada kekalahan sejarah di tahun 1950-an.

Penulisan mengenai PRRI menurut Audrey Kahin, masih menyisakan ‘rongga kosong’ yang harus diisi.[9] Salah satunya adalah kajian mengenai kondisi perempuan pada saat itu. Mereka adalah saksi mata sekaligus pelaku yang terlibat secara langsung dalam peristiwa. Apabila muncul opini bahwa PRRI mengguncang mental masyarakat Sumatera Barat—perempuan pun merasakan hal yang sama.

Tulisan ini akan mengkaji persoalan: bagaimana kondisi perempuan Minangkabau dalam konflik PRRI serta seperti apa dimensi seks yang mengikusertakan perempuan mampu memberikan kekuatan bagi laki-laki. Apakah dalam situasi konflik perempuan selalu menjadi nomor dua atau sebaliknya seperti kata Pak Kuntowijoyo, melalui penulisan sejarah bercorak androgyneusentris[10], perempuan muncul dalam dimensi yang khas.

B. Hidup di Tengah Konflik PRRI

Perbedaaan peran antara laki-laki dan perempuan Minangkabau seperti digambarkan Cora Vreede-De Stuers[11], masih menguat di tahun 1950-an. Tensi politik yang meninggi karena pengaruh konflik PRRI, menimbulkan nuansa tersendiri bagi kaum perempuan. Iklim pusat yang diwarnai ketegangan antara golongan: Islam, nasionalis, dan komunis, secara tidak langsung berpengaruh bagi kehidupan perempuan Minangkabau.

Sebelum konflik memuncak menjadi perang saudara pada tahun 1958, perempuan Minangkabau hanya merasakan ketegangan sosial. Dari segi pendidikan misalnya, tidak sedikit yang putus sekolah. Yulinar yang pada saat itu berusia 18 tahun misalnya, mengalami kondisi itu. Sebelum perang, ia masih bersekolah agama di Padang. April tahun 1958, dia terpaksa berhenti sekolah dan pulang ke kampungnya di Sumpur Kudus.[12]

Pada saat konflik makin panas, sebagian perempuan yang bergabung dalam organisasi, mengindu pada dua poros: Islam dan sosialis-komunis, yang masing-masing gawangi oleh dua partai: Masyumi dan PKI. Masyumi menggandeng perempuan ke dalam satu induk organisasi yang bernama Wanita Muslimat Masyumi. Sementara PKI, mulai mendekati Gerwani. Dua organisasi ini digiring untuk menyebarkan opini partai.

Wanita Muslimat Masyumi misalnya, mengusung tema anti komunis. Mereka kerap mengadakan pengajian untuk para ibu di surau-surau. Kegiatan ini gencar dilakukan di Bukittinggi yang saat itu masih berstatus ibukota Sumatera Barat. Dalam kajian itulah, opini antikomunis disandarkan dengan pandnagan forma bermata agama. Muncul semacam dikotomi Islam dengan marxisme. Persoalan mengenai penciptaan manusia misalnya, menjadi pengantar untuk memahami Islam, sekaligus mematahkan materialime historis yang dibawa Marx. Asma Malin yang saat itu menjadi sekretaris Wanita Muslimat Masyumi misalnya mengatakan:

“Waktu itu, kami dipahamkan tentang penciptaan manusia. Kalau dalam AlQuran, manusia diciptakan dari tanah, lain menurut ajaran komunis. Manusia diciptakan secara evolusi dari kera. Nah inilah bedanya. Kalau Islam dari Saripati tanah, dengan evolusi, kemudian terciptalah manusia. Tapi ajaran komunis tidak. Siapa yang saat itu mulai mengikuti ajaran komunis, maka dia tercipta dari beruk. Waktu itu kami bahkan sempat ditanya guru ngaji, “Kamu mau dicipta dari beruk?”, “Tidak !”, kami menjawab. “Mau tidak Kamu jadi komunis?”, kami juga bilang, “Tidak!”[13]

Secara politis, pertentangan tersebut ditujukan kepada PKI. Partai ini dianggap sudah keluar dari ide gerakan di tahun 1920-an, yang berhasil mengusik kedudukan Belanda melalui pemberontakan Silungkang[14]. Pada saat itu, PKI dianggap sebagai pejuang. Akan tetapi tahun 1950-an, partai ini dicap sudah keluar dari jalur perjuangan.[15]

Sementara itu PKI, tidak mau kalah. Gerwani mulai gencar didekati. Sebelum pecah perang, Gerwani memang tidak ‘seagresif’ Muslimat Masyumi. Kondisi ini berubah pasca perang. Sebaliknya Wanita Muslimat Masyumi yang semula lantang, perlahan-lahan bungkam. Pimpinan Wanita Muslimat Masyumi seperti: Rahmah el Yunusiah dan Ratnasari, bergabung dengan tokoh Masyumi dan PRRI seperti: M.Natsir, Syafruddin Prawiranegara, dan lainnya. Mereka lalu pecah karena pemerintah pusat melancarkan Operasi 17 Agustus yang dipimpin oleh Ahmad Yani.

Penyerangan yang tiba-tiba ke kota Padang pada 17 April, pukul 06.00 pagi dengan persenjataan lengkap, seketika memporak-porandakan PRRI. Praktis tidak ada perlawanan yang berarti. Pasukan PRRI berubah arah. Mereka menyingkir ke hutan, meninggalkan kota Padang. Setelah menggempur Padang, APRI lalu bergerak memasuki Bukittinggi. Kondisi pada saat itu semakin kacau. Mereka yang dianggap terlibat PRRI, lari ke hutan untuk melindungi diri.[16]

Pasukan PRRI di bawah pimpinan Ahmad Husein kocar-kacir. Mereka memlilih bergerilya di sepanjang hutan Sumatera. Situasi makin kacau saat tentara pusat yang berada dalam gabungan Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI), bergerak ke seluruh basis PRRI yakni: Padang, Padang Panjang, Pariaman, Bukittinggi, Solok, Muara Labuh, hingga daerah terakhir di Sumpurkudus.

Dalam situasi yang makin rumit tersebut, sebagian perempuan ikut menjadi korban. Beragam kepentingan yang bermain atas nama PRRI, menjadi tragedi tersendiri bagi mereka. Mereka kerap mengalami intmidasi dari dua arah: pasukan PRRI dan APRI. Pada akhirnya, PRRI membawa perempuan dalam dua kelompok: mereka yang eksis dan tenggelam dalam konflik. Mereka yang eksis, menginduk ke dalam organisasi politik atau mengikuti suami bergerilya. Sementara yang tenggelam, pasrah dengan situasi.

C. Seks dalam Konflik; Like and Dislike

Secara umum, seks sering dimaknai sebagai puncak hubungan yang menandai aktivitas fisik. Jersild membahasakan bahwa hubungan seksual adalah suatu keadaan fisiologik yang menimbulkan kepuasan fisik, yang merupakan respon dari bentuk perilaku seksual berupa: ciuman, pelukan, dan percumbuan. Secara fisiologis, seks adalah cara untuk menghilangkan ketegangan fisik setelah muncul dorongan yang bernama libido. Sedangkan secara psikologis, seks adalah cara menyeimbangkan mental, sehingga muncul ketenangan jiwa.

Dalam kehidupan rumah tangga, seks adalah kebutuhan. Pada umumnya, daya seks laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Secara fisik, tiap dua jam laki-laki memproduksi sperma. Ini artinya, mereka selalu berada dalam posisi ‘aktif’. Kondisi ini berbeda dengan perempuan yang mengalami masa aktif hanya pada tiga hingga tujuhbelas hari selepas haid.

Secara khusus dalam kondisi perang, seks adalah problema tersendiri, terutama bagi laki-laki. Perang yang secara psikologis menimbulkan ketegangan fisik dan psikis, kerap membuat mental terganggu. Kondisi ini juga yang terjadi pada konflik PRRI. Keberadaan perempuan ternyata berpengaruh besar. Menurut Rolland Litlewood, dalam situasi perang yang penuh ketegangan, laki-laki mengalami guncangan mental yang hebat. Ketegangan ini akan memuncak tensinya dan menyebabkan laki-laki merasa ‘sakit.’ Rasa sakit ini salah satunya hanya dapat direduksi dengan seks.[17]

Bagi pasukan militer yang telah berkeluarga misalnya, seks adalah beban tersendiri. Persoalan ini yang terkadang menimbulkan ‘kecelakaan sejarah’ berwajah kekerasan. Penyekepan, pelecehan, hingga pemerkosaan adalah kasus yang selalu terjadi dalam tiap situasi perang.

Pada saat PRRI misalnya, ketiga kasus juga mewarnai. Kekerasan terhadap perempuan dilakukan oleh dua pihak: APRI dan PRRI. Inilah yang menjadi dilema tersendiri bagi perempuan Minangkabau. Perang memang mematikan dimensi kemanusiaan. Tidak ada lagi perbedaan kawan dan lawan. Semua terjebak dalam satu kepentingan: kemenangan dan kekuasaan. Tidak heran, kekerasan terhadap perempuan marak terjadi pada masa itu.

Dari pihak APRI misalnya, kekerasan terhadap perempuan mulai menggejala semenjak kedatangan Divisi Diponegoro[18] di pertengahan tahun 1958. Divisi Diponegoro dikenal agresif terhadap pasukan PRRI. Pada 30 Agustus 1958 misalnya, mereka berhasil melancarkan operasi besar-besaran bernama Operasi Badai yang meliputi daerah: Batusangkar, Matur, Maninjau, Limapuluh Kota, dan Tanah Datar.[19]

Pada saat operasi inilah, penyekapan hingga pemerkosaan terjadi. Abdul Samad, aktivis PRRI, misalnya mengatakan bahwa tentara mulai bebas menyekap perempuan di rumah-rumah gadang. Lebih lanjut ia mengatakan, “Dengan dikumpulkannya para perempuan, para tentara tidak akan sudah-susah mencari pelacur ke kota-kota. Begitulah kekejaman Diponegoro.”[20]

Demikian juga pemerkosaan yang menyebabkan kehamilan sebagian perempuan. Pasca perang, mereka menanggung dua beban: moral yang berkaitan dengan adat setempat serta kepada diri mereka sendiri. Sebuah fenomena menyedihkan telihat saat penarikan pasukan Diponegoro. Tidak sedikit perempuan Minang yang meratap di Teluk Bayur karena tidak dapat menikah. Puluhan gadis Minang yang hamil dan memukul-mukul perut, karena malu pulang kampung.[21]

Inilah gambaran perlakuan APRI. Pasukan PRRI juga tidak berbeda. Merekapun melakukan hal yang sama. Soewardi Idris misalnya menggambarkan dalam bentuk cerpen tentang kekejaman pasukan PRRI. Meski dikemas dalam bahasa sastra, namun cerpen ini pada dasarnya adalah catatan pribadi Soewardi Idris selama bergerilya dengan pasukan PRRI. Ia gambarkan:

“Tidak lupa kami membuat lelucon tidak ada dalam kamus manusia beradab, yaitu menanggalkan pakaian wanita-wanita kecuali BH dan rok dalam. Wanita-wanita merupakan hasil pencegatan yang paling besar, yang membuat anggota gerombolan kami mabuk-mabukan gembira. Mereka ingin agar wanita dibagi-bagi seperti membagi nasi bungkus.”[22]

Pasukan APRI dan PRRI sama-sama ‘berlomba’ untuk memenuhi kebutuhan seks. Dalam situasi darurat seperti ini, seks menjadi bermakna: like dan dislike. Like diberlakukan jika didasarkan pada landasan cinta yang mengikutkan hubungan resmi antara suami-istri atau bisa jadi dilakukan lewat kawin mut’ah. Sebaliknya, seks menjadi dislike jika dihadapkan pada persoalan nafsu sekaligus teror[23]. Nafsu dikaitkan dengan kebutuhan biologis. Menurut Sutarto, Kepala Kementrian Pertahanan di tahun 1957, para tentara yang tidak dapat dipenuhi kebutuhan seksualnya, mula-mula merasa dirinya sunyi.

Kesunyian akan hilang apabila ia sekedar bergaul dengan perempuan. Bebannya akan terasa ringan apabila ia senenatiasa mendapat perhatian dari para perempuan yang dicintainya dan yang jauh ditinggalkan oleh istrinya.[24] Penyataan Sutarto dibenarkan Soewardi Idris yang dalam penggalan cerpennya menuliskan, “Kehidupan membujang selama petualangan dalam hutan, terasa sepi sekali. Kalau lama-lama macam ini, mungkin jiwaku bisa rusak binasa.”[25] Lebih gamblang, Roland Litlewood juga menulis bahwa dalam studi psikologi, masa setelah terus-menerus mengalami kegelisahan atau kepenatan, secara signifikan bisa diturunkan tensinya dengan memberikan sejumlah perlakuan psikologis. Tentara memandang hubungan seksual adalah sebagai penahan kegelisahan dalam perang.” [26]

D. Perang tanpa Seks; Perjuangan tanpa ‘Senjata’

Persoalan seks sebenarnya bukan hanya berhenti pada posisi laki-laki butuh perempuan. Namun, ada momentum yang secara historiografis dapat menjadi jalan perempuan untuk masuk dalam pusaran sejarah. Posisi perempuan di belakang laki-laki sebagai pendukung psikologis inilah sebenarnya, yang menarik untuk dikaji. Seks adalah simbol dukungan. Perang yang berkecamuk dengan senjata dan pertempuran bahkan berujung kematian, menyimpan cerita yang tidak dapat dilepaskan dari perempuan.

Bagi perempuan yang mengikuti suami bergerilya misalnya, mereka mempunyai kenangan tersendiri. Tidak dipungkiri bahwa tanpa perempuan, laki-laki memang lemah. Persoalannya bukan hanya terletak pada kekhawatiran pada istri pada saat ditinggal, namun lebih pada dorongan seks. Maka tidak heran, tokoh-tokoh penting PRRI seperti: Ahmad Husein, Syafruddin Prawiranegara, dan Natsir, membawa anak dan istri mereka ke dalam hutan.

Istri Ahmad Husein, Desmaniar, bahkan melahirkan anak perempuan di hutan[27]. Hal yang sama juga dialami oleh Waharti, istri Zakaria yang saat itu menjabat sebagai kepala seksi logistik PRRI. Ia melahirkan anak laki-laki bernama Erpi Juntano dalam gerilya di hutan Solok[28].

Keberadaan perempuan dengan demikian menjadi kekuatan tersendiri bagi laki-laki. Dalam situasi sulit, mereka harus tetap berhubungan dengan perempuan. Surat misalnya, adalah media saat fisik tidak dapat bertatap. Ini dialami oleh Djamalus Djamil, Brimob Kompi 5152 di Bukittinggi. Istrinya, Nursyamsi, menceritakan, “Bapak kirim rutin surat-surat. Ibu juga membalasnya lewat kurir. Bapak selalu menanyakan kabar anak-anak. “Sehat-sehat saja kan?”, begitu kata Bapak. Kadang Bapak juga menulis, ”Bu, bapak titip anak-anak.”[29]

Perang di satu sisi ternyata menjadi momentum yang paling menyakitkan bagi laki-laki. Bukan hanya pada persoalan ‘perangnya’, tetapi cara bertahan jika tanpa perempuan. Senjata perang dengan demikian, bukan selalu berwujud peluru dan bayonet, tetapi juga muncul dalam bentuk: perempuan. Inilah yang menurut pengalaman Rusli Marzuki Saria, “Perang menimbulkan satu kesempatan, ‘tembak ‘ateh’, tembak ‘bawah’ (tembak ‘atas’ dan ‘bawah’).”[30]

Pada masa perang inilah terjadi perkawinan, baik sesama penduduk, maupun campuran. Dalam kasus PRRI, paling terlihat percampuran antara orang Jawa dan Sumatera. Pernikahan umumnya dilakukan secara sederhana. Cukup dengan memotong satu ekor ayam atau uang sebanyak Rp. 5.-, mamak siap menjadi wali nikah. Setelah itu diadakan kenduri, dan dalam acara tersebut akan dikatakan, “Ninik mamak hendak menerima keponakan. Tolong diterima bersama.”[31] Dia harus jujur menyebut siapa dirinya. Lalu diterimalah menjadi anak keponakan Dengan diterimanya menjadi anak keponakan, menikahlah tentara dengan dengan calonnya.[32]

Perkawinan terjadi dengan beragam kepentingan. Ada yang didasari rasa suka, adapula yang dilandasi ketakutan, terutama bagi perempuan. Di antara mereka ada yang langgeng, tetapi tidak sedikit yang bercerai karena penelantaran (deprivasi).

Pengalaman menyedihkan dituturkan misalnya oleh Yulinar dan Maidar.Yulinar dinikahkan oleh mamaknya dengan simpatisan PRRI dari Kompi Harimau Minang, Umar Daar, yang berasal dari Kampung Tanah Datar, Batusangkar. Pada saat itu, Daar bekerja di Departemen Pertanian Sawahlunto di bagian administrasi.[33] Karena di masa bergolak para pegawai juga dikenakan wajib militer, Umar Daar kemudian masuk menjadi anggota PRRI di Kompi Harimau Minang.

Atas dasar perjodohan, Yulinar menurut. Di kemudian hari, ia tahu kalau suaminya sudah beranak-istri. Dari sinilah, awal penelantaran itu terjadi. Kesusahan yang berlipat, dirasakan Yulinar. Ia menuturkan, “Itulah ibu, ganja batu[34]. Tak dibalanjo, ibu ditinggal.”[35] Tidak ada pilihan lain kecuali bercerai. Sementara itu Maidar, ia menikah dengan alasan sederhana. Dalam penuturannya, ia mengatakan, “Ibu kawin jo apak, karano apak tu tentara. Lai pulo, ibu indak namuah digoda-goda jo tentara Jawa.”[36] (“Ibu menikah dengan bapak, karena bapak tentara. Lagipula, ibu tidak mau digoda-goda tentara Jawa.”). Selepas PRRI, Maidar juga bercerai.

Pengalaman Yulinar dan Maidar menjadi gambaran bahwa dalam ketegangan perang, laki-laki memang tidak hanya memilih rasa aman dengan perlindungan. Mereka juga memilih perempuan. Pengalaman pahit masa perang, dapat ditepis dengan hadirnya perempuan yang direlasikan dalam pernikahan. Persoalan: bertahan atau bercerai, bukan merupakan kekalahan bagi perempuan. Pada akhirnya, mereka memilih hidup mandiri untuk membesarkan anak.

Pengalaman lain juga dituturkan oleh Mansoersami, yang pada saat konflik menjadi Bupati Sawahlunto, Sijunjung. Pada saat bertugas, Nuraini, istrinya yang berada di Padang, diperistri secara paksa oleh salah seorang anggota Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM) UGM[37].

Tidak ada pilihan lain bagi Mansoersami selain menyerahkan sang istri. Sejak saat itu, ia mengalami kegelisahan hebat. “Saya ini habis semuanya,[38] demikian ia menuturkan. Tidak lama sesudah itu, saat berada di wilayah basis terakhir PRRI yakni Sumpurkudus, Mansoersami menikah dengan gadis setempat.[39] Dengan pernikahan itulah, ia mengobati kegelisahan akibat: perang dan kehilangan istri.

E. Penutup

Dalam kompleksitas perang, perempuan adalah bagian ‘tersembunyi’ yang sebenarnya punya pengaruh besar. Terlebih jika dihubungkan dengan persoalan seks, perempuan dan perang akan terlihat dalam nuansa yang berbeda. Ada sisi manusiawi yang mengandung permakluman, bahwa perang yang selalu menampakan wajah warior, ternyata juga menyimpan segi melankolis. Laki-laki terutama yang kerap dianggap sebagai hero, ternyata juga punya kelemahan. Bahkan dalam beberapa hal, perempuan bisa jadi lebih maskulin dibanding laki-laki. Dalam posisi inilah, perubahan mental itu terjadi.

Konflik PRRI yang menimbulkan perang saudara di Minangkabau misalnya, menyisakan perubahan mental, baik bagi laki-laki. Ia merasakan ketegangan hebat. Dalam situasi rumit itulah, laki-laki butuh penopang bernama perempuan. Di sinilah saling ketergantungan (mutual dependence) itu terjadi. Meskipun dibaluri dengan intrik penelantaran atau bahkan kekerasan, tidak dipungkiri bahwa laki-laki juga tergantung pada perempuan.

Secara historiografis, perempuan sebenarnya tidak lagi harus merasa ‘inverior’ untuk mengatakan bahwa mereka adalah bagian penting dari sejarah. Perang misalnya, menjadi kunci masuknya perempuan. Dukungan mereka kepada suami terutama, adalah wujud kuatnya kedudukan perempuan. Secara seksual, tanpa perempuan, laki-laki akan terus-menerus dihinggapi ketegangan mental.


Daftar Pustaka

Abdullah Mun’im Muhammad, Khadijah Ummul Mu’minin Nazharat Fi isyraqi Fajril Islam, a.b. Ghozi M, Khadijah The True Love Story of Muhammad, Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2007.
Anis Matta, Mencari Pahlawan Indonesia, Jakarta: The Tarbawi Center, 2004.
Azmi, dkk., Adat dan upacara Perkawinan Daerah Sumatera Barat, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1970.
Badinter, Elisabeth, Unopposite Sex; The End of The Gender Battle, New York: A Cornellia and Michael Bessie Book,1989.
Br. Kris, FIC, “Makna Seksualitas bagi Manusia”, http://www.satunet.com, diakses pada Rabu, 19 Januari 2011, Pk. 17.00 WIB.
Christina Handayani dan Ardhian Novianto, Kuasa Wanita Jawa, Yogyakarta: LkiS, 2004.
Gusti Asnan, Memikir Ulang Regionalisme Sumatera Barat Tahun 1950-an, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007.
Hamka, Kisah Cinta Para Pejuang dalam “Edisi Surat-Surat Cinta”, Majalah Tarbawi, 2005.
Harian Rakjat, 2 September 1958.
Hasril Chaniago dan Mestika Zed, Perlawanan seorang Pejuang; Biografi Kolonel Ahmad Husein, Jakarta: Sinar Harapan, 2001.Gusti Asnan, Memikir Ulang Regionalisme Sumatera Barat Tahun 1950-an, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007.
Hasril Chaniago dan Khairul Jasmi, Brigadir Jendral Kaharuddin Rangkayo Basa; Gubenur di Tengah Pergolakan, Jakarta: Sinar Harapan, 1998.
Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006.
Latif Datuk Bandaro dkk. (ed.), Minangkabau yang Gelisah; Mencari Startegi Pewarisan Adat dan Budaya Minangkabau untuk Generasi Muda, Bandung: Lubuk Agung, 2004.
Litlewood, Roland, “Military Rape”, Antropology Today, Vol. 13 No. 2, April 1997.
Mansoer Fakih, Jender dan Transformasi Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997.
Marsana Windhu, Kekuasaan dan Kekerasan Menurut Johan Galtung, Yogyakarta: Kanisius, 1992.
Mas’oed Abidin, Implementasi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Padang: Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau (PPIM).
Mestika Zed, Pemberontakan Komunis Silungkang; Studi Gerakan Sosial di Sumatera Barat, Yogyakarta: Syarikat Indonesia, 2004.
Munandir, PTM sebagai Bentuk Perjuangan Mahasiswa Mencerdaskan Kehidupan Bangsa; Memperingati 50 Tahun Usia Dimulainya Proyek PTM, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2001.
Reni Nuryanti, “Hidup di Zaman Bergolak; Perempuan Minangkabau pada Masa Pergolakan Daerah (1956-1961)”, Tesis, Yogyakarta, UGM, 2009.
R. Sutarto, “Soal Kelamin dalam angkatan Perang”, Benteng Negara, No.7/1957, tahun VIII.
Soewardi Idris, Antologi Cerpen Pergolakan Daerah Senarai Kisah Pemberontakan PRRI, Yogyakarta: Beranda, 2008.
Teks Perayaan 17 Agustus 1958 di Bukittinggi, (Bukittinggi: Djawatan Penerangan Kota Bukittinggi, 1958.
Vreede-De Stuers, Cora, Sejarah Perempuan Indonesia; Gerakan dan Pencapaian, Jakarta: Komunitas Bambu, 2008.
Wawancara Yulinar, Sumpur Kudus, 30 Agustus 2008, Pk. 09.00-11.00 WIB.
Wawancara Asma Malin, Padang, 20 September 2008, Pk. 11.00-12.30WIB.
Wawancara Abdul Samad, Bukittinggi, 3 September 2008, Pk.16.00WIB.
Wawancara Desmaniar (Des Husen), Jakarta, 2 Agustus 2008, Pk. 19.00-20.30 WIB.
Wawancara Waharti, Jakarta, 3 Agustus 2008, Pk. 13.00-14.00 WIB.
Wawancara Mansoer Sami, Padang, 9 Januari 2009, Pk. 13.00-14.00 WIB.
Wawancara via telepon dengan Rusli Marzuki Saria, 16 Mei 2009, Pk. 20.00-20.30 WIB.
Wawancara Nursyamsi, Solok. 25 Oktober 2008, Pk.13.00 WIB.


[1] Hamka, Kisah Cinta Para Pejuang dalam “Edisi Surat-Surat Cinta”, Majalah Tarbawi, 2005.
[2] Anis Matta, Mencari Pahlawan Indonesia, (Jakarta: The Tarbawi Center, 2004).
[3] Christina Handayani dan Ardhian Novianto, Kuasa Wanita Jawa, (Yogyakarta: LkiS, 2004).
[4] Lihat Abdullah Mun’im Muhammad, Khadijah Ummul Mu’minin Nazharat Fi isyraqi Fajril Islam, a.b. Ghozi M, Khadijah The True Love Story of Muhammad, (Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2007): 307.
[5] Keterangan lanjut lihat Roland Litlewood, “Military Rape”, Antropology Today, Vol. 13 No. 2, April 1997: 13.
[6] Badinter, Elisabeth, Unopposite Sex; The End of The Gender Battle, (New York: A Cornellia and Michael Bessie Book, 1989): 158.
[7] Penjelasan lanjut, baca I Marsana Windhu, Kekuasaan dan Kekerasan Menurut Johan Galtung, (Yogyakarta: Kanisius, 1992).
[8] Gusti Asnan, Memikir Ulang Regionalisme Sumatera Barat Tahun 1950-an, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007):203. Gusti Asnan menganalisa, ‘ambruknya’ PRRI terlihat dari dua sebab: kesalahan strategi dan over confident dari Ahmad Husein yang tidak mau menghiraukan kekuatan kontra PRRI. Ibid.: 202-203. PRRI dinilai bukan hanya perang kecil. Menurut Nasution, selama perang saudara ini, khusus daerah operasi Kodam III/17 Agustus (Sumatera Barat/Riau), dari kedua belah pihak menelan korban meninggal sebanyak: 7.146 orang, 1.944 luka-luka dan 321 hilang. Korban terbesar yang diderita PRRI, yakni 6.115 tewas dan 627 hilang. Keterangan selanjutnya lihat Hasril Chaniago dan Mestika Zed, Perlawanan seorang Pejuang; Biografi Kolonel Ahmad Husein, (Jakarta: Sinar Harapan, 2001): 152.
[9] Lihat Kata Pengantar Audrey Kahin dalam Hasril Chaniago dan Khairul Jasmi, Brigadir Jendral Kaharuddin Rangkayo Basa; Gubenur di Tengah Pergolakan, (Jakarta: Sinar Harapan, 1998): v.
[10] Keterangan lanjut lihat, Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006).
[11] Corra menulis bahwa perempuan Minangkabau tampak mempunyai kekuasaan yang besar. Akan tetapi, hal ini tidak berlaku dalam kepemilikan hak suara di keluarga. Di sini mereka tersisih. Perempuan tetap berada di bawah laki-laki. Dalam urusan keluarga misalnya, pengaruh perempuan lemah.. Mereka hanya sebatas memberikan saran demi ketercapaian mufakat, bukan sebagai partisan.. Cora Vreede-De Stuers, op.cit.: 38.
[12] Wawancara Yulinar, Sumpur Kudus, 30 Agustus 2008, Pk. 09.00-11.00 WIB.
[13] Wawancara Asma Malin, Padang, 20 September 2008, Pk. 11.00-12.30WIB.
[14] Lebih lanjut mengenai pemberontakan Silungkang, lihat Mestika Zed, Pemberontakan Komunis Silungkang; Studi Gerakan Sosial di Sumatera Barat, (Yogyakarta: Syarikat Indonesia), 2004.
[15] Wawancara Asma Malin, Padang, 20 September 2008, Pk. 11.00-12.30WIB.
[16] Lihat Reni Nuryanti, “Hidup di Zaman Bergolak; Perempuan Minangkabau pada Masa Pergolakan Daerah (1956-1961)”, Tesis, Yogyakarta, UGM, 2009.
[17] Rolland Litlewood, op.cit.
[18] Secara struktural, Divisi Diponegoro saat itu dipimpin oleh Ali Moertopo, kepala staf RTP II dan Pranoto Rekso Samodra, yang sekaligus menjabat sebagai Komando Operasi 17 Agustus, menggantikan Kolonel Ahmad Yani. Penggantian ini dilaksanakan di stadion Lapangan Banteng, Padang, pada hari Kamis, 4 Juni 1958. Upacara timbang terima tersebut dihadiri oleh KASAD Letnan Jendral A.H. Nasution. Keterangan lebih lanjut, baca Teks Perayaan 17 Agustus 1958 di Bukittinggi, (Bukittinggi: Djawatan Penerangan Kota Bukittinggi, 1958): 20.
[19] Harian Rakjat, 2 September 1958.
[20] Wawancara Abdul Samad, Bukittinggi, 3 September 2008, Pk.16.00WIB.
[21] Wawancara Abdul Samad, Bukittinggi, 3 September 2008, Pk.16.00WIB.
[22] Soewardi Idris, Antologi Cerpen Pergolakan Daerah Senarai Kisah Pemberontakan PRRI, (Yogyakarta: Beranda, 2008): 10.
[23] Seks juga kerap dijadikan alat teror untuk melemahkan lawan. Dengan menguasai perempuan, musuh akan merasa terhina dan kalah. Bagi laki-laki, ini adalah beban tersendiri. Jika mental sudah lemah, musuh dengan sendirinya akan mudah didesak dan dikalahkan.
[24] Kebutuhan seksual mempunyai peranan penting di dalam masyarakat dan meminta banyak perhatian. Di antara kebutuhan-kebutuhan manusia yang primer, kebutuhan seksuallah yang paling banyak mengalami kekecewaan. Di dalam angkatan perang, terutama kesyahwatan, merupakan persolan yang amat penting. Di kalangan tentara, kebutuhan seksual lebih tinggi daripada masyarakat biasa. Lebih lanjut, baca R. Sutarto, “Soal Kelamin dalam Angkatan Perang”, Benteng Negara, No.7/1957, tahun VIII: 5.
[25] Soewardi Idris, op.cit.: 29.
[26] Ibid.
[27] Wawancara Desmaniar (Des Husen), Jakarta, 2 Agustus 2008, Pk. 19.00-20.30 WIB.
[28] Wawancara Waharti, Jakarta, 3 Agustus 2008, Pk. 13.00-14.00 WIB.
[29] Wawancara Nursyamsi, Solok. 25 Oktober 2008, Pk.13.00 WIB.
[30] Wawancara via telepon dengan Rusli Marzuki Saria, 16 Mei 2009, Pk. 20.00-20.30 WIB.
[31] Wawancara Sudarman, Sumpur Kudus, 1 September 2008 Pk. 21.00-22.20 WIB.
[32] Wawancara Sudarman, Sumpur Kudus, 1 September 2008 Pk. 21.00-22.20 WIB.
[33] Yulinar lahir di Sumpur Kudus, tahun 1940.
[34] Ganja batu dan ganja kayu merupakan istilah budaya di Minangkabau. Kata ’ganja’ berasal dari bahasa Minangkabau, ‘ganjal’, yang berarti landasan. Sebagai gambaran diumpamakan: Seorang pendaki Anai berjalan dari Padang ke Bukittinggi. Ia membawa barang-barang di atas pedati. Suatu hari karena kerbau kelelahan, dihentikanlah pedati tersebut. Untuk menjaga agar barang-barang tidak tumpah, maka roda pedati tersebut diganjal dengan menggunakan batu atau kayu. Kalau mengggunakan batu, maka akan ditinggal, karena batu mudah dijumpai. Lain halnya jika menggunakan kayu, maka akan terus dibawa, karena sulit dijumpai. Perumpamaan ini kemudian dipakai untuk menyebut perempuan yang hanya dinikahi dalam waktu singkat, kemudian ditinggal begitu saja, atau sebaliknya dinikahi selamanya meskipun si laki-laki beristri lebih dari satu. Istilah ini populer khususnya setelah PRRI. Perempuan-perempuan yang dinikahi pada masa PRRI, baik oleh tentara urang awak (PRRI) maupun APRI, sebagian ditinggal begitu saja. Mereka inilah yang mendapat sebutan ganja batu. Adapun mereka yang dibawa oleh suami, mendapat sebutan ganja kayu. Wawancara melalui telepon dengan Rusli Marzuki Saria, 16 Mei 2009, Pk. 20.00-20.30 WIB.
[35] Wawancara Yulinar, Sumpur Kudus, 1 September 2008, Pk. 13.00 WIB.
[36] Wawancara Maidar Sumpur Kudus, 29 Agustus 2008, Pk. 21.00 WIB.
[37] Sejalan dengan program Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM) dari UGM, kisah romantika memang tidak pernah terlepas. Bagaimanapun, hampir seluruh mahasiswa yang dikirim ke luar Jawa (96,6%) adalah bujangan. Kisah-kasih terbuka lebar untuk terjalin di sana. Hal ini tidak dapat dipungkiri, banyak di antara para mahasiswa yang menjalin kasih dengan para murid. Lihat Munandir, PTM sebagai Bentuk Perjuangan Mahasiswa Mencerdaskan Kehidupan Bangsa; Memperingati 50 Tahun Usia Dimulainya Proyek PTM, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2001):116.
[38] Wawancara Mansoer Sami, Padang, 9 Januari 2009, Pk. 13.00-14.00 WIB.
[39] Wawancara Mansoer Sami, Padang, 9 Januari 2009, Pk. 13.00-14.00 WIB.
Share:

Senin, 07 November 2016

Memunculkan Karakter, Menguatkan Identitas; Peran Guru dalam Mencipta Kualitas Pendidikan melalui Optimalisasi IESA Quotiens



Saya mempunyai keyakinan, bahwa seandainya bangsa kita tidak putus naluri atau tradisi, tidak kehilangan “garis kontinu” dengan zaman yang lampau, maka sistem pendidikan dan pengajaran di negeri kita… pasti akan mempunyai bentuk serta isi dan irama, yang lain daripada yang kita lihat sekarang.
(Ki Hadjar Dewantara)

Guru, digugu lan ditiru atau dengan kata lain: dipatuhi dan diteladani. Menjadi guru berarti menyandang tanggungjawab untuk: membimbing, memotivasi, sekaligus menjadi pemimpin yang mencitrakan keteladanan. Ki Hadjar Dewantara menyebutnya piwulang: Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.

Menyinggung piwulang tersebut, ada hal penting yang harus dimunculkan oleh guru di era globalisasi yang sarat tantangan. Mereka harus punya bekal yang dinamakan profesionalitas yang menunjuk pada kemampuan: akademik, praktik, dan moral yang mencakup sikap: jujur, tanggungjawab, visioner, disiplin, kerjasama, adil, dan peduli.

Ketiganya harus berjalan berirama, sehingga akan memunculkan sosok guru yang berkualitas. Salah satu cara adalah membangun pendidikan yang berbasis kearifan lokal, tanpa mencabut akar budaya. Semua ini dilakukan untuk mewujudkan karakter dan identitas peserta didik—dua komponen pokok yang membentuk jati diri.

Komponen ini menjadi agenda besar pendidikan di Indonesia. Karakter yang bertumpu pada nilai moral adalah pondasi, sedangkan identitas adalah cerminan bangsa yang berbudaya. Untuk membentuk keduanya, sentuhan kontinyu harus dilakukan pada sisi psikologis yang bernama mental.

Para guru dapat berkreasi secara aktif. Pendidikan berkualitas tidak musti selalu mengedepankan fasilitas berbasis IT. Justru yang penting dan mendasar adalah mengembangkan dimensi lokal. Ada mutiara hikmah yang membentuk manusia secara utuh. Paulo Freire mengingatkan bahwa guru tidak hanya menjadi tenaga pengajar yang memberi instruksi kepada anak didik, tetapi harus memerankan diri sebagai pekerja kultural (cultural workers) yang melandaskan kearifan. Sebuah dimensi penting berbasis IESA (Intelectual, Emotional, Spiritual, And Adversity Quotiens), menjadi garda depan dalam membangun kualitas pendidikan.

Pendidikan Berkarakter, Pendidikan Masa Depan

Membentuk manusia berkarakter, menjadi agenda besar pendidikan masa depan. Jerman FW Foerster, salah satu perintis pendidikan karakter, mengatakan bahwa model ini merupakan sintesis sekaligus alternatif mengatasi kejumudan model: natural Rousseauian dan instrumentalisme pedagogis Deweyan. Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang positivisme ala Comte.

Agenda tersebut seharusnya melekat pada guru sebagai salah komponen dasar keberhasilan pendidikan. Keberhasilan tersebut bukan hanya disimbolkan dengan pemberian nilai akademik yang tercermin secara kognitif. Namun demikian, tertera pada pembentukan sikap mental peserta didik yang merupakan bangunan: kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Pendidikan sebagai sebuah ‘komunikasi’ antara fisik dan mental peserta didik, seharusnya dikembangkan secara tepat dalam upaya membentuk manusia yang merdeka serta memiliki: martabat, mentalitas, dan sikap demokratik. Sifat inilah inilah yang akan menumbuhkan karakter. Karena itulah menurut Driyarkara, komunikasi ini harus terus dimiliki, dilanjutkan, dan disempurnakan.

Niccolo Machievelli menuliskan bahwa karakter yang kokoh mampu menggantikan kekurangan kodrati yang tumbuh secara alamiah dengan penyempurnaan yang terus menerus. Dengan demikian menurut Martin Buber, pendidikan tidak dapat dilepaskan dari orang lain yang membentuk kepribadian. Campur tangan orang lain adalah penentu yang mampu merubah dan membina karakter. Di sinilah peran guru menjadi kunci. Lebih jauh, Foerster menyinggung bahwa karakter merupakan jalan untuk menjadi identitas untuk mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Dari kematangan karakter inilah, kualitas seorang pribadi diukur.

IESA Quotiens; Komponen Pokok Pembentukan Pendidikan Berkarakter

Manusia secara umum dikarunia tiga kecerdasan yaitu: intelektual, emosional, dan spiritual. An. Ubaedy menambah satu lagi, Adversity Quotient (AQ). Lalu apa kaitanya dengan peran guru dalam membentuk pendidikan berkarakter?

Pertama, kecerdasan intelektual dibedakan menjadi delapan kelompok yakni: Kecerdasan Linguistik (Lingusitic Intellegence), Kecerdasan Logika-Matematika (Logical-Mathematical Intellegence), Kecerdasan Spasial (Spatial Intellegence), Kecerdasan Kinestetik Tubuh (Bodily-Khinestetic Intellegence), Kecerdasan Musikal (Musical Intellegence), Kecerdasan Interpersonal (Interpersonal Intellegence), Kecerdasan Intrapersonal (Interpersonal Intelligence), dan Kecerdasan Naturalis (Natural Intelligence).

Semuanya merupakan modal pokok yang seharusnya dipahami oleh seorang guru. Tiap siswa mempunyai kecenderungan dalam mengolah kecerdasan. Tugas guru adalah membimbing dan memotivasi agar mereka mampu memaksimalkan sebagai kunci kesuksesan hidup.

Secara emosional, kesuksesan ini kemudian ditunjang oleh kecerdasan emosional. Intelektual saja tidak cukup. Tanpa dukungan sikap emosi yang tangguh, manusia menjadi egois. Sikap ini yang terkadang membuat seseorang terpuruk dalam hubungan sosial. Tidak heran, muncul sindiran, “Cerdas tapi tak mampu mengolah hidup.” Inilah yang harus dijembatani. Quraish Shihab misalnya mengatakan, akal dan hati harus berpadu dalam membangun pengetahuan, termasuk dalam pendidikan. Pengetahuan tidak hanya digerakan oleh akal, tetapi juga hati. Singkatnya dikatakan, fungsi hati adalah meneguhkan akal.

Keteguhan tersebut akan lebih mengakar apabila ditopang oleh kecerdasan spiritual. Bagian ini yang kadang kurang disentuh, padahal sangat utama dalam kehidupan. Makna spiritual adalah mendekatkan manusia, dalam hal ini peserta didik, kepada hakikat dan nilai-nilai ketuhanan.

Kesadaran pada hakikat Tuhan inilah, yang membuat manusia tunduk dan patuh pada kebenaran. Ia akan menjalankan roda kehidupan berdasar ketentuan dan aturan yang universal, sekaligus mengandung makna ukhrawi. Ari Ginanjar Agustian, pencetus ISQ Power, menuliskan bahwa titik Tuhan (God Spot) itu tercermin dari laku manusia yang selalu mengembalikan aktivitasnya sebagai implementasi nilai-nilai ketuhanan. Ketika manusia mengingat Tuhannya, segala aktivitas bukan hanya bermakna humanis, tetapi juga agamis. Ini artinya, ada proses perubahan dari keyakinan (believes) menjadi perilaku (behaviours).

Agama bukan hanya menjadi ilusi infantil—tempat berkeluh kesah sementara—tetapi menjadi tujuan akhir, termasuk menjembatani ketika filsafat dan ilmu pengetahuan tak lagi mampu menjawab persoalan hidup. Titik kulminasi dari kejenuhan menjawab masalah ilmu pengetahuan, hanya dapat ‘ditanyakan’ secara langsung kepada agama.

Selanjutnya ketika kesulitan hidup menghampiri, AQ ‘menyapa’ dengan optimis. Kesulitan bukan menjadi halangan apa lagi titik akhir untuk menjalani kehidupan. Justru semua itu adalah pelajaran dan pendidikan yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Kesulitan justru menjadi peluang, sekaligus tantangan kehidupan. Keberanian menghadapinya adalah keputusan terbijak. Kekuatan mengolahnya, adalah manifestasi kecerdasan.

Persoalan semacam ini, sudah menjadi fenomena umum dalam dunia pendidikan. Beragam masalah kerap melanda peserta didik. Kadarnya beragam, bisa ringan maupun berat. Kompleksitas yang terangkai di dalamnya adalah komponen pelajaran hidup yang harus dihadapi dengan penuh keberanian. Seperti dikatakan oleh RA. Kartini, “Maju dan berani! Semua harus diawali dengan keberanian! Barang siapa tidak berani, dia tidak akan mampu mengarungi tiga perempat dunia.”

Karakter dan Identitas Berbasis IESA Quotiens; Pilar Manusia Masa Depan

Kualitas seorang guru bukan hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi seberapa besar ia mampu membangun: karakter dan identitas. Inilah pola pemikiran yang harus dibangun di tengah perubahan zaman. Beragam masalah yang timbul pada peserta didik seperti: tawuran, seks bebas, penyalahgunaan narkoba—wujud memudarnya karakter dan identitas peserta didik.

West C. mengingatkan, kejahatan manusia (brutality) merupakan tanda menurunkanya moral manusia yang sekaligus menandai lemahnya karakter dan indentitas mereka. Dari sisi kecerdasan, IQ yang tidak diimbangi dengan EQ dan SQ, hanya akan menjerumuskan manusia pada ‘malapetaka kehidupan.’ Dengan demikian, tugas guru sebenarnya sangat kompleks. Secara filosofis, ia memegang 3 peran: epistimologi, aksiologi, dan metafisika (forma). Sedangkan secara praktik, ia menggenggam peran sebagai: teladan, pembimbing, sekaligus pemimpin.

Dengan filsafat epistemologi, guru mengetahui apa yang harus diberikan kepada warga belajar, bagaimana cara memperoleh pengetahuan, dan bagaimana cara menyampaikan pengetahuan tersebut. Sedangkan filsafat aksiologi, mengarahkan guru untuk memahami kebutuhan warga belajar, baik kuantitas maupun kualitasnya. Keduanya akan terekam kuat dalam diri peserta didik, apabila dilandasi oleh keyakinan yang kokoh. Keyakinan ini dilandaskan pada jembatan trasendental yang dinamakan agama.

Kekokohan tersebut akan lebih terlihat, jika didukung oleh kearifan lokal. Jangan anggap enteng nilai-nilai lokal, karena dari sinilah bermulanya sebuah identitas. Bangsa Indonesia sedang dilanda ‘penyakit akut’ yakni kehilangan identitas. Bahkan sebuah sindiran pedas sering didengar, “Orang Indonesia kalau tidak ke-Barat-Baratan, ya Ke-Arab-Araban.” Lalu di mana identitas Indonesia yang katanya berakar pada nilai budaya bangsa nan luhur? Di mana adat ke-Timuran yang menjunjung moral?

Persoalan tersebut dapat disemai melalui pendidikan. Peran guru sebagai teladan menjadi sangat sentral. Ia bukan hanya berkewajiban menumbuhkan kecerdasan intelektual, tetapi juga moral sebagai kaidah pokok pembentukan karakter peserta didik.

Mau tidak mau, harus diakui bahwa mental dan identitas manusia Indonesia sedang berada di persimpangan antara ‘pingsan dan ‘mati suri’. Tugas guru adalah menghidupkan karakter dan identitas peserta didik sebagai bagian dari masyarakat yang akan menjadi pemimpin. Paul Suparno misalnya mengatakan, “Bangsa Ini tidak maju sebenarnya bukan pertama-tama karena anak-anak tidak baik, tetapi karena banyak orang tua, orang dewasa, termasuk pimpinan yang tidak berkaraketer baik.” Wakil presiden, Budiono, juga mengatakan, “Seorang pemimpin bukan hanya harus terampil dan pandai, tapi juga harus memiliki karakter. Karakter ini yang akan menentukan seorang pemimpin lebih unggul daripada pemimpin lain, apalagi kita harus bersaing di kancah globalisasi dunia di berbagai bidang. Karakterlah yang akan menguji seorang pemimpin di saat yang sulit. Apakah bisa benar-benar menjadi pemimpin, atau malah hanya sebagai pengikut dan penonton saja." Singkat kata menurut Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta mengingatkan, ”Pendidikan karakter dapat menjadikan individu ''smart and good''.

Dengan demikian, menjadi guru berarti harus siap untuk menjadi ‘empu’ yang menempa, membentuk, dan mencipta manusia masa depan yang berkarakter dan punya identitas nasional yang kokoh. Dua pilar inilah yang akan mewujudkan kualitas pendidikan. Dengan demikian, komponen utama kualitas pendidikan bertumpu pada: kemampuan (capability) guru dalam ‘mengolah’ mental peserta didik.

Kualitas peserta didik ditentukan pada optimalisasi kecerdasan yang ditopang kekuatan: intelektual, emosional, spritual, dan kekuatan memanfaatkan peluang dalam kehidupan. Optimalisasi kecerdasan yang ditopang oleh kearifan lokal, akan memunculkan bentuk identitas yang utuh sebagai manusia Indonesia. Sehebat apapun pendidikan, jangan sampai mencabut akar budaya lokal. Sebaliknya, justru menjadikannya tonggak masa depan bagi peserta didik.

Penutup

Menjadi guru, berarti harus siap untuk membentuk dan mencipta manusia masa depan yang berkarakter dan punya identitas nasional yang kokoh. Dua pilar inilah yang akan mewujudkan kualitas pendidikan. Dengan demikian, komponen utama kualitas pendidikan bertumpu pada: kemampuan (capability) guru dalam ‘mengolah’ mental peserta didik.

Kualitas peserta didik sebagai in put yang telah merasakan olah throught put, ditentukan pada optimalisasi kecerdasan yang ditopang kekuatan: intelektual, emosional, spritual, dan kekuatan memanfaatkan peluang dalam kehidupan.

Optimalisasi kecerdasan yang ditopang oleh kearifan lokal, akan memunculkan bentuk identitas yang utuh sebagai manusia Indonesia. Sehebat apapun pendidikan, jangan sampai mencabut akar budaya lokal. Sebaliknya, justru menjadikannya tonggak masa depan bagi peserta didik.
Share:

Senin, 31 Oktober 2016

Bacakak Badunsanak; Gerwani Minangkabau pada Masa Dewan Banteng dan PRRI 1956-1961

A. Pengantar

Keberadaan Gerwani dalam pergolakan daerah tahun 1950-an di Sumatera Barat, hampir tidak pernah dituliskan. Penjelasan Gusti Asnan bahwa hanya organisasi Wanita Tionghoa dan India yang menolak memberikan dukungan kepada Dewan Banteng, justru keliru. Gerwanilah yang sebenarnya sangat keras gaungnya dalam menentang Dewan Banteng hingga PRRI. Tulisan ini akan menjelaskan seputar: keterlibatan Gerwani dalam demontrasi menentang Dewan Banteng dan PRRI, penahanan Gerwani, penggabungan kekuatan Gerwani ke dalam APRI, serta hubungan antara Gerwani, PKI, dan APRI.

B. Melawan Lewat Demontrasi

“Jadi kalau ingat itu, kalau ibu banding-bandingkan tahun lima tujuh/lima delapan (1957/1958), ibu tidak sedikit adanya rasa menyesal. Ibu tu berjuang untuk tegaknya Negara Republik kan? Kemarin ini (1965), apa salah saya, diambil. Nah gitulah. Jadi ibu sudah dua kali masuk itu (tahanan). Memang indak (tidak) rela rasanya, indak (tidak) puas, kita. Jadi saya ditangkap waktu tahun 1957/1958 karena menentang Pemerintahan Revolusioner, artinya membela pemerintahan yang sah indak? (tidak?). Jadi nak Reni, kami sejak awal berjuang untuk itu, supaya tidak pecah belah negara ini.”[1]

Sejak awal tahun 1957, Gerwani di Sumatera Barat mulai menyatukan barisan. Penyatuan tersebut terbentuk seiring kedekatan Gerwani dengan PKI dan ‘keluarganya’, yang pada saat itu sudah mulai mengalami intimidasi dari Dewan Banteng. Kedekatan inilah, yang menjadi jalan bersatunya Gerwani dan PKI, untuk melawan Dewan Banteng. Dua organisasi ini bekerja sama, meski secara struktural, belum menjadi satu tubuh. Hubungan mereka masih kompleks, seperti digambarkan oleh Saskia Wieringa Eleonora[2].

Menurut Ma, Pimpinan Gerwani Bukittinggi, ia sering mengadakan rapat untuk mencari strategi menentang Dewan Banteng. Selain rapat, Ma juga menjadi agen penyelundupan Harian Rakyat ke Sumatera Barat. Harian milik PKI ini semenjak tercetus Dewan Banteng, dilarang masuk ke Sumatera Barat. Karena itulah, Ma yang kemudian bertindak sebagai agen rahasia. Ia katakan, “Ibulah yang menerima tuh. Mau kirim ke Payakumbuh, mau kirim ke Padang, lewat ibu dulu.”[3] Lebih jelas, simak penuturannya berikut ini.

“Waktu itu Harian Rakyat, harian PKI itu, tidak boleh masuk ke sini lagi. Akhirnya kemudian diselundupkan itu, ibulah yang menerima tu. Jadi kalau mau dibawa ke Padang, Payakumbuh, semuanya lewat ibu dulu. Biasanya, saya masukan ke dalam baju karena takut ditanya atau diinterogasi sama polisi. Saya masukan rapat-rapat dalam baju, kemudian diikat sehingga orang tidak ada yang tahu. Pernah suatu hari saya ceroboh dan mengatakan, “Saya membawa koran”. Untunglah yang ada di hadapan saya adalah mantan guru sekolah menengah dan dia hanya mengatakan, “Kamu tuh ceroboh. Jangan menegur saya”. Oya bu, maaf, saya indak mengerti. “Besok jangan diulangi lagi”, begitu kata ibu. “Indak bu”, saya bilang.”[4]

Harian Rakyat dibredel semenjak PKI secara terang-terangan menentang Dewan Banteng. Selain Harian Rakyat, dibredel juga terbitan: Bintang Timur, Sulindo, dan Pemuda.[5] Pada saat itu hanya: Abadi, Indonesia Raya, Pedoman, Keng Po, dan Haluan yang masih menyambangi pembaca di Sumatera Barat.[6] Terakhir, Haluan, merupakan koran yang menjadi corong Dewan Banteng.

Pengiriman Harian Rakyat bukan semata-mata menyebar informasi. Sejak akhir tahun 1956, Harian Rakyat menyediakan kolom khusus yang mencermati perkembangan Dewan Banteng. Berikutnya pada tahun 1957, seiring dengan penangkapan anggota PKI, keberadaan Harian Rakyat makin penting sebagai corong pembelaan. Melalui harian ini, PKI seolah ingin membukakan mata masyarakat Sumatera Barat khususnya dan Indonesia umumnya, mengenai kekejaman Dewan Banteng. Karena kekejaman ini pula, Gerwani dan PKI berusaha menentang.

Sejak Desember 1957, pasca dikeluarkankannya kecaman Simbolon[7], terjadi penangkapan besar-besaran terhadap anggota PKI. Penangkapan sebenarnya sudah dimulai pada pertengahan tahun 1957, pasca diumumkannya Dewan Nasional. Setelah ditangkap, mereka dipenjarakan di tiga tempat: Muara Labuh, Suliki, dan Situjuh[8]. Menanggapi penangkapan yang makin marak, orang-orang PKI bersuara keras. Mereka bukan hanya berasal dari Sumatera Barat, tetapi juga Sumatera Utara. Sebagai gambaran, pada 20 Juni 1957 Harian Rakjat memberitakan:

“Atas nama kaum Komunis dan pemilih PKI Sumatera Utara, kami protes atas pendudukan kantor provcum PKI Sumatera Tengah oleh Dewan Banteng. Bebaskan pemimpin-pemimpin rakyat yang ditahan seperti Djamhur Hamzah dan lain-lain. Hentikan tindakan fasis Dewan Banteng.”[9]

Penentangan mulai terasa pasca sidang penandatanganan persetujuan Dewan Banteng, awal tahun 1957 di Bukittinggi. Dalam sidang tersebut, Dewan Banteng mencoba menghadirkan semua elemen masyarakat, termasuk Gerwani yang mewakili organisasi perempuan. Sidang ini dipimpin langsung oleh Ahmad Husein. Sebagai peserta yang hadir, Ma mengatakan:

“Waktu itu pada awal tahun 1957, ibu hadir dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Ahmad Husein dan kawan-kawannya. Ibu datang sebagai wakil Gerwani di Sumatera Barat ini. Dalam rapat itu, diantaranya ibu diberikan daftar peserta yang isinya mengenai persetujuan pembentukan Dewan Banteng. Tentu saja ibu tidak mau tanda tangan. Orang-orang yang ada di dalam rapat itu, mulai mempertanyakan kehadiran ibu. Tentu saja ibu menjawab begini, “Saya datang ke sini kan untuk menghadiri, bukan untuk menyetujui dan menandatangani pembentukan Dewan Banteng.” Ibu lalu meninggalkan rapat, karena tidak sesuai dengan rencana ibu. Sejak itulah, ibu mulai dianggap musuh oleh eksponen Dewan Banteng, mulai dianggap sebagai masyarakat yang tidak memahami kondisi daerah. Tapi ibu tidak peduli. Ibu tahu, bahwa pembentukan dewan ini sifat politiknya pecah belah.”[10]

Sikap Ma yang terang-terangan menentang Dewan Banteng, masih dibiarkan. Bahkan ketika ia menolak menandatangani piagam persetujuan, tidak ada tindakan reaktif dari Dewan Banteng. Selepas pertemuan tersebut, Ma mulai menggalang kekuatan antar Gerwani dan ‘keluarga PKI’ seperti: Pemuda Rakyat, SOBSI, dan BTI di Sumatera Barat, untuk mengadakan demontrasi. Dia kemudian dipercaya sebagai pimpinan demontrasi di Bukittinggi. Pada saat itu, sudah dipetakan daerah-daerah yang menjadi basis demontrasi. Dua wilayah utama adalah: Bukittinggi dan Padang Pariaman[11]. An, pimpinan Gerwani di Padang Pariaman, misalnya mengatakan:

“Dari tempat darurat pos, kawan kita keluarkan resolusi. Di Padang Pariaman itu, ibu yang memimpin; di Bukittinggi, Ma dan Nadiar. Kalau ibu dengan Djawani, waktu itu. Kini Djawani itu sudah meninggal. Jadi kami memimpin sama-sama. Hari Minggu untuk Ma, sedangkan Sabtu untuk ibu dan Djawani di Padang Pariaman.”[12]

Sikap reaktif Gerwani mengundang kekhawatiran keluarga masing-masing, seiring maraknya penangkapan terhadap orang-orang PKI. Untuk menghindari penangkapan, Ma dibujuk oleh kakaknya untuk pindah sementara waktu ke Sibolga, Sumatera Utara. Demi ibunya, semula Ma menurut. Akan tetapi begitu mendengar upaya penentangan terhadap Dewan Banteng yang makin gencar disuarakan kawan-kawannya, dia berubah pikiran. Ma minta dipulangkan kembali ke Bukittinggi. Ia menuturkan demikian.

“Jadi akhirnya, situasi sudah mulai gawat dan mulai ada penangkapan segala. Itu terjadi pada awal tahun 1957, setelah Dewan Banteng terbentuk. Ibu ini anak perempuan yang tertua, dipindahkanlah aku ke Sibolga, itu. Ku minta dulu mandat sama pos pusat kami di Ujung Guguk. Katanya kalau masih ada jiwa juang untuk rakyat, jangan tinggalkan daerah. Waktu itu celana nih masih putih, belum seperti sekarang. Di celana itu, ada tertulis mengenai slogan semangat bagi kami. Setiap pergi ke WC baca tuh, “Kalau masih ada jiwa juang untuk rakyat, jangan tinggalkan daerah! Jangan tinggalkan daerah!” Lalu macam mana aku ini mak, kalau saya tidak kembali ke Bukik (penyebutan kota Bukittinggi), begitu saya katakan pada amak. “Ya apa boleh buat, namanya juga dipercayakan sama saya”, gitu kata saya. “Ya sudahlah, terserah kamu”, kata amak. Akhirnya saya pergi dengan membawa lampu stromking, karena anak gadis indak boleh keluar. Abang menemani saya berjalan dari satu desa ke desa lain. “Kau di sini sajalah katanya, tidak usah menampakan diri. Simbolon ini kan ibarat dari mulut harimau ke mulut buaya”, gitu kata abang. “Tapi kalau saya di sini, saya sama saja berkhianat. Saya balik sajalah bang”, kataku. Kata abang, “Ya terserahlah. Kalau ditangkap saya tidak menengok. Aku usahakan belikan kamu gelang ya?” “Ah enggaklah. Keputusan balik, turunkan saya di Kampung Cina (Bukittinggi) tu.” Pada waktu itu, orang tua ibu sudah tidak di kampung.”[13]

Keputusan Ma untuk kembali ke Bukittinggi bukan semata-mata dorongan psikologis, tetapi karena ideologi yang mulai mengembang dalam dirinya. Ketika itu ia bahkan menuliskan kata-kata, “Kalau masih ada jiwa juang untuk rakyat, jangan tinggalkan daerah!. Jangan tinggalkan daerah!”[14] di celana panjang putihnya. Saat mandi, celana itu ia gantung di dinding, sehingga setiap saat bisa membaca dan menghayati.

Ma tetap berpegang pada keputusan awal untuk memimpin demontrasi. Sewaktu sampai di Bukittinggi, dia kembali bergabung bersama anggota Gerwani dan ‘keluarga’ PKI. Menurut keterangan Ma, Gerwani dan PKI sudah mendapatkan keterangan dari pimpinan pusat. Keterangan tersebut memberitahukan bahwa tindakan Dewan Banteng ini merupakan upaya pecah belah negara yang harus dicegah. Dewan Banteng dianggap mengarah pada pembentukan negara baru—memisahkan diri dari RI. Ma mengatakan:

“Kami di Gerwani tahu itu, dan lama-lama mereka kan ingin membentuk negara baru. Apakah itu namanya bukan pemberontak. Jadi nak Reni, kami sejak awal berjuang untuk itu, supaya tidak pecah belah, negara ini.”[15]

Penentangan terhadap Dewan Banteng memang sudah membawa misi nasional, bukan lagi persoalan lokal. Ada transformasi kepentingan pemerintah pusat yang mengalir ke dalam tubuh Gerwani.

Suasana politik di Bukittinggi makin panas. Gerwani dan PKI kemudian membentuk barisan untuk menguatkan pesan dari pimpinan pusat. Mengenai gambaran yang terjadi saat itu, Ma mengatakan:

“Waktu itu, kami sudah mengamati Dewan Banteng. Waktu itu ya nak Reni, kalau mau berangkat bilang pimpinan maka berangkatlah! Satu menit terlambat, berarti kematian. Misalnya, tinggalkan rumah itu kalau dimata-matai. Waktu itu, kalau tidak patuh pasti mati. Bukankah sudah begitu panas, Dewan Banteng tu. Jadi waktu itu kalau mengingkari garis, mati tu. Tapi kalau orang sudah biasa dalam disiplin, dia mau camkan itu.”[16]

Kesiapan Gerwani menentang Dewan Banteng sudah matang. Sebuah slogan bahkan ditanamkan, “Kalau mengingkari garis, mati!.[17] Tekad untuk melawan Dewan Banteng ini makin mengakar dengan dukungan penuh dari PKI dan ‘keluarganya’. Tidak heran ketika terjadi penangkapan terhadap orang-orang PKI, Gerwani bereaksi keras menuntut pembebasan.

Mereka membentuk kesatuan aksi demontrasi sebagai wujud penentangan terbuka terhadap Dewan Banteng. Tindakan mereka terstruktur, terencana, dan rapi. Sebagai contoh sebelum melakukan demontrasi, mereka diajarkan pidato oleh Ketua Gerwani Sumatera Barat, Dahliar, yang berasal dari Padang Payo.

Dalam pidato tersebut, Dahliar ‘meramu’ kalimatnya dengan ‘bumbu-bumbu’ agama. AlQuran sebagai tonggak agama Islam, menjadi alat yang menambah kekuatan kata-katanya. Ma mengistilahkan, “Seperti air turun, dia membaca AlQuran.”[18] Posisi Dahliar sebagai guru agama, menambah kepercayaan masyarakat terhadapnya. Dalam pidatonya tersebut, Dahliar menyeru untuk mendukung pembubaran Dewan Banteng[19].

Selepas pidato, hari berikutnya turun ke jalan. Bulan Agustus 1957 kondisi makin kritis dan sejak itulah, diputuskan melakukan demontrasi dengan membawa jargon, “Berdiri di kita di belakang pusat.”[20] Untuk menguatkan informasi ke pusat, dikirimlah telegram yang berisi kejelasan bahwa Gerwani menentang kehadiran Dewan Banteng dan membela pemerintah republik yang sah.[21] Demontrasi merupakan titik balik bagi masyarakat di Sumatera Barat, bahwa ada yang menentang Dewan Banteng.[22]

Demontrasi dilaksanakan pada Rabu, 21 Agustus 1957, di Pasar Bukittinggi. Para demonstran tidak hanya dari Bukittinggi, tetapi juga Lubuk Basung. Mereka datang dengan pedati serta membawa poster yang digulung.[23] Bukittinggi dipilih sebagai pusat demontrasi karena daerah ini merupakan ibukota Sumatera Barat.

Massa yang berdemo, jumlahnya tidak sedikit. Menurut keterangan Ma, ada sekitar 2.000 orang yang beramai-ramai mendatangi Pasar Bukittinggi. Untuk menambah semarak suasana, sebagian mereka bahkan membawa alat musik talempong. Mereka berdemo di depan kantor bupati. Massa yang terdiri dari laki-laki dan perempuan, diberikan penugasan.

Perempaun yang sebagian besar para ibu, bertugas mencari bupati. Pada saat itu, sang bupati dikabarkan berada di Padang. Mereka tidak putus asa. Pernyataan tegas tetap digemakan, “Kami dari Masyarakat Sumatera Barat berdiri di belakang pemerintahan Sukarno.“[24] Adapun agenda demontrasi salah satunya menuntut pembebasan Djamhur Hamzah.[25] Dalam demontrasi tersebut, juga tampil Camat Baso, Zayni Zar, yang menuntut pembebasan mamaknya.
C. Bertahan dalam Gelombang Penangkapan

Pada saat demontrasi di Bukittinggi makin panas, datang pasukan PRRI. Mereka menggunakan senjata lengkap, sehingga massa seketika bubar. Ketakutan muncul, sehingga mereka berhamburan tanpa kendali. Ma akhirnya ditangkap. Mengenai suasana saat itu, Ma menuturkan:

“Nah, saat kami berdemo itulah tiba-tiba datang sepasukan tentara PRRI. Masa yang semula berteriak keras, seketika panik. Ya gimana nak Reni, mereka bawa senjata lengkap. Sedangkan kami, tidak membawa apa-apa. Kami hanya membawa keberanian untuk menentang Dewan Banteng. Apa boleh buat, banyak kawan kami menyelamatkan diri, ada pula yang ditangkap. Tidak sedikit, kawan kami yang dibawa dan ditahan oleh mereka. “[26]

Sementara itu di Padang Pariaman, kondisinya juga sama. Daerah ini juga menjadi pusat demontrasi, karena di sinilah masa PKI berpusat, terutama di daerah Sungai Sarik. An dan Djawani sebagai pimpinan demontrasi, juga ditangkap dan dibawa ke kantor polisi. Mereka beberapakali mengalami pemeriksaan dan interogasi, bahkan hingga disuruh membuka baju.[27]

Sementara itu di Bukittinggi, Ma ditahan bersama lima kawannya. Dua perempuan bernama: Nilawati dan Nadiar, sedangkan 3 laki-laki dari Pemuda Rakyat, di antaranya bernama Muchtar. Mereka kemudian dibawa ke kantor polisi yang ada di sebelah jam gadang, Bukittinggi. Selama Tiga hari, mereka ditahan dan diinterogasi. Menurut keterangan Ma, waktu itu antara lain ditanya, “Siapa yang menyuruh-nyuruh?” Para tahanan berusaha menyembunyikan dan hanya menjawab, “Tidak ada.” 24 Pada saat itu, Ma mengaku tidak sedih atas penangkapan yang terjadi. Dia merasa berjuang supaya Indonesia tidak pecah belah. Kesedihan justru muncul, ketika mengingat ibunya. Ma menceritakan demikian.

“hari berikutnya, ibu datang dengan membawa selimut dan bantal. Menangis, ibu. Ndak usah menangis, begitu ku bilang. Ini kan sebuah perjuangan. Jangan menangis ibu, tidak usah menangis, saya bilang begitu. “[28]

Dua kakak laki-laki Ma: Hasan Basri dan Hasan Zubir, adalah simpatisan Dewan Banteng. Karena itulah begitu mengetahui dia ditangkap, mereka bersikeras membujuk Ma untuk meninggalkan Gerwani. Melihat struktur politik keluarga Ma, tampak ada pertentangan yang tersembunyi. Satu rumah terdapat ‘musuh’ dan ‘lawan’. Ma tetap berpegang pada prinsip Gerwani, sedangkan dua kakaknya tegak mendukung Dewan Banteng. Gambaran ini menjadi contoh dilematis kehidupan politik masyarakat Sumatera Barat pada saat itu. Mereka dihadapkan pada dua pilihan sulit: memegang ideologi atau mempertahankan daerah. Kondisi ini yang tidak jarang mengorbankan persaudaraan dalam keluarga. Keragaman pemikiran sering menuai konflik, apabila tidak muncul penerimaan satu sama lain. Semula kondisi ini terlihat biasa, tanpa konflik. Akan tetapi, semenjak kepentingan daerah ‘bertabrakan’ dengan ideologi—konflik perlahan-lahan muncul.

Selepas ditahan di kantor polisi Bukittinggi, Ma dipindahkan ke Rumah Tahanan Padang. Setelah itu, tahanan laki-laki dibawa ke RTT (Rumah Tahanan Tentara), sementara Ma dan 2 orang lainnya dibawa ke Muaro di RTU (Rumah Tahanan Umum). Selama 4 bulan, mereka di sana.

Pada yang bersamaan, ibu dan dua kakak Ma terus membujuk agar dirinya meninggalkan aktivitas Gerwani. Kedua kakaknya bahkan sudah bersiap untuk pembebasan dirinya. Ma tetap berpegang pada prinsip Gerwani. Ia yakin bahwa sikapnya yang menentang Dewan Banteng, adalah benar. Dengan tegas Ma mengatakan bahwa kekuatan perjuangan bukan hanya terletak pada senjata, tetapi dukungan rakyatnya. Di sisi lain, Ma yakin bahwa tentara pusat akan datang dan membebaskan dirinya.[29]

Sementara itu An dan Djawani, lebih susah dibanding Ma. Mereka terus diinterogasi, diancam, lalu diperlakukan sebagi tukang cuci. Situasi ini dirasakan saat mereka berada di Lembaga Pemasyarakatan Pariaman kemudian dibawa ke LP (Lembaga Pemasyarakatan) Padang Panjang. Tidak lama kemudian, mereka dipindahkan dari Padang Panjang. Dalam pemindahan tersebut, terdapat tahanan laki-laki sebanyak 167 yang dibawa dengan mobil. [30] An menyaksikan sebagian mereka dibunuh, ditembak, lalu dibakar di sana.[31] Peristiwa pembunuhan itu tidak mengakhiri penahanan. Para tahanan yang masih tersisa kemudian dimasukan ke Asrama Thawalib Padang Panjang.[32]

Dalam situasi dan kondisi yang sama, Ma masih beruntung karena mendapat perlindungan dari dua kakaknya, meski akhirnya tidak mau dibebaskan. Dua kakaknya, mengalah dan membiarkannya ditahan. Kedua kakaknya ini juga terikat kepentingan kelompok. Ibunya yang kemudian datang ke Padang untuk menjenguk. Ma mengatakan, “Ada rasa iba terpancar di mata ibu.”[33]

Ma menyadari perasaan ibunya, tetapi rasa malu dan prinsip kebersamaan yang ditanamkan terhadap teman-temannya, membuatnya memilih tetap berada dalam tahanan. Akhirnya ibu Ma mengalah dan memilih untuk setia menjenguk dan mengantar makanan. Ma mengakui hidup sebagai tahanan memang sulit. Setiap pagi, ia hanya makan dua potong ubi rebus. Lauk ikan baru dirasakan saat ibunya mengirim. Tapi itulah perjuangan. Ma mengatakan, “Asal sabut terapung, asal batu membenam.”[34]

Ibu Ma menghubungi jaksa serta keluarga teman-teman Ma. Cara itu dilakukan dengan harapan bisa membantu membebaskan atau memberikan jaminan. Informasi mengenai usaha ibunya itu, dibenarkan Ma. Ia mengatakan, “Akhirnya, ibu meminta surat kepada jaksa. Akhirnya, setelah saya tahu kalau teman-teman saya juga dijamin oleh oleh famili mereka, aku baru menerima tawaran itu.”[35]

Saat upaya pembebasan dilakukan, kondisi politik di Sumatera Barat makin panas. Ini sejalan dengan pengumuman PRRI, 15 Februari 1958. Dua bulan kemudian, pada april 1958, APRI datang untuk membebaskan Padang. Setelah itu, beruntun dilakukan pembebasan terhadap daerah lain. Orang-orang yang semula tergabung dalam PRRI, mulai bergerak untuk menyelamatkan diri. Kondisi ini sejalan dengan kekalahan mereka melawan APRI. Strategi bertahan dalam hutan, diambil sebagai langkah mempertahankan diri.

Sementara itu para tahanan segera diamankan dengan cara berpindah-pindah tempat. Ma dipindah dari Padang menuju Solok, lalu ke Muara Labuh, terakhir di Lubuk Gadang. Saat dilakukan pemindahan itulah, Ma bertemu dengan anggota Pemuda Rakyat. Para pemuda tersebut mengingatkan Ma, “Jangan mau dipisahkan dengan kami. Anak gadis dibawa laki-laki. Jangan mau dipisah-pisah”.[36] Lebih lanjut, simak penuturannya berikut ini.

“Kami lalu dimasukan ke truk. Seperti memasukan ubi tu. Sesak, sampai ibu sulit bernafas. Inilah baru terasa tahanan. Ibu dibawa ke Solok. Indak berapa hari, lalu dipindahkan. Di sana banyak laki-laki yang dari Pemuda Rakyat. Mereka sudah punya kode, katanya, kalau tanda kain merah, itu bahaya. Jangan mau dibawa, kalau tidak semua diberangkatkan. Lebih baik ditembak di sini. Akhirnya tambah lagi tiga orang, juga dari Pemuda Rakyat. Biasa ketika malam minggu, di kota kan mereka rapat-rapat. Ditangkapnya mereka, tapi mereka dijamin oleh keluarganya. Jadi, kalau tidak ikut demontrasi, kan hukumannya tidak berat. Akhirnya menuju ke Muara Labuh. Akhirnya di sana lagi, terjadi pembunuhan. Ya Allah, ya Robbi, tidak bisa dilupakan seumur hidup. Dari Muara Labuh, kami dipindahkan ke Lubuk Gadang. Eh, terdengarlah di sana bahwa APRI sudah masuk ke kota Padang.“[37]

Kedatangan APRI membawa harapan bagi Ma. Pada bulan April 1958, Ma dibebaskan dari tahanan Lubuk Gadang. Akan tetapi, pembebasan itu tidak serta merta memberikan keamanan total. Rintangan kembali dirasakan Ma. Dia mengatakan:

“Awak mudo kan? Masih gadis kan? Ada tentara muda tuh, Sersan Mayor, naksir sama ibu. Katanya, “Biarlah kuselamatkan kamu, saya nikahi.” “O, indak bang”, kata saya. Aku ke dalam ni bukan untuk cari suami. Dia bilang lagi, “Tidak, untuk menyelamatkan kamu, biarlah aku nikahi.” “Indaklah, nyawaku entah besok, entah kapan juga akan abang bunuh.” Diajaklah saya jalan-jalan ke Kayu Waru, ke kebun teh. Dia pakai celana panjang dan mulai mau pegang-pegang ibu. Kita berduaan tu. Saya tetap menolak. Ya bagaimana, saya tidak mau mati dengan tanpa tanggungjawab. Biarlah mati, kita sudah dibekali dengan agama. Lebih baik mati daripada diperkosa. Ini bekal bagi ibu. Jadi sewaktu di penjara, sempat mengaji dan sholat. “[38]

Ma menolak ajakan itu dan minta kembali ke Padang. Untuk kembali ke Padang, ternyata juga tidak mudah. Kondisi sudah kacau oleh konflik terbuka antara APRI dengan pasukan PRRI. Pada saat itu, APRI juga sudah menyerukan agar rakyat yang mendukung PRRI menyerah. Seruan tersebut terutama ditujukan kepada masyarakat yang masuk dalam jajaran pemerintahan. Ma kembali mengatakan:

“Ada seruan dari tentara pusat, supaya tentara, pegawai, menyerah. Waktu itu seruannya begini, “Hei kamu menyerahlah. Suruh teman-teman, adik kakak kamu untuk menyerah, dijamin. Baik kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Mengapa kamu di hutan!””[39]

D. Bergabung dengan APRI

Gerwani akhirnya bekerjasama dengan PKI dan ‘keluarganya’, untuk membantu APRI. Meskipun dalam konstelasi politik nasional, PKI dan militer cenderung berlawanan, kondisi ini tidak terjadi dalam suasana penumpasan PRRI. Sebaliknya, PKI dan Gerwani tampak sebagai mitra setia APRI. Dalam keterangannya, Ma mengatakan, “Ya waktu itu, saya memang membantu APRI. Jadi waktu itu, PRRI ini menyerah dengan membawa senjata. Lalu senjatanya ini saya bawa dan masukan ke karung, lalu dijunjung.”[40]

Pada saat itu, dibentuk Panitia Pembela Korban Dewan Banteng, yang diketuai Rasyid Manggih. Orang-orang yang tergabung di dalamnya adalah Putra Minang yang anti PRRI. Usaha selanjutnya adalah mengadakan pertemuan dengan Departemen Dalam Negeri yang dipimpin Kyai Haji Wachid Hasyim. Pertemuan ini bertujuan untuk menghubungkan Bupati dan Walikota se-Sumatera Barat.

Usaha yang dilakukan oleh Ma dan kawan-kawan tidak berjalan mulus. Mereka kembali menemui rintangan saat berhadapan dengan pasukan PRRI. Ma kembali ditangkap oleh PRRI di daerah Air Mancur. Pada saat itu, Ma baru saja mengantar ketua Gerwani, Dahliar, ke Payakumbuh. Dalam aksi pencegatan tersebut, Walikota Payakumbuh menjadi korban. Kondisi makin parah ketika sudah sampai di Padang sudah larut malam dan hujan lebat. Ma menuturkan:

Kami dimasukan dalam truk. Bayangkan, kami didorong-dorong seperti pasir. Sakit badan saya. Pelurunya berdentum-dentum menembak konvoi-konvoi itu. Tidak ada perlawanan, ya seolah-olah kami pasrah mati semua. Sudah dengan suaranya yang kasar, “Maju!”, begitu. Waktu itu saya bilang, “Ya Allah, saya mau mati di sini.” Setelah kondisi reda, saya dibawa ke asrama tentara tu. Baru dikasih lampu 250 watt, baru disuruh ngomong. Saya tidak bisa ngomong. Entah karena kedinginan atau ketakutan, yang jelas semuanya campur.“[41]

Ma kemudian dilepaskan. Dia lalu meninggalkan Padang, menuju Bukittinggi, tempat keluarganya. Sambutan hangat dirasakan oleh Ma. Saat itulah, ia menyaksikan keluarganya bersatu. Kedua kakaknya sudah kembali dari hutan. Begitupun adik perempuannya, berada di rumah. Mengenai suasana saat itu, Ma menuturkan:

“Pagi-pagi pukul 9, saya berangkat sendirian ke Bukittinggi, ke kantor polisi. Begitu sampai di sana, mereka menyambut sambil mengatakan, “Eh, anak Pak Rauf masih hidup”, begitu kata mereka. Iyalah, begitu kataku. Lalu saya bertemu dengan adiku yang sudah menikah itu. Dia sudah menikah 1 bulan tu. Begitu melihat ibu masih hidup, dia minta cerai. “Aku tidak mau menikah, aku minta cerai, aku tidak mau bersuami”. “Uniku, kakaku, masih hidup”, begitu dia bilang. Jadi kumpullah lagi, kami semua. Abang sudah menyerah, sampai akhirnya saya aktif kembali di Gerwani“.[42]

Semenjak kedatangan APRI itulah, orang-orang kontra PRRI bisa merasakan kebebasan. Karena itulah, mereka sangat mendukung APRI. Sejak awal, APRI disambut dengan meriah. Mengenai penyambutan ini Ro, anggota Pemuda Rakyat, menuturkan:

“Waktu itu, saya bertugas untuk menyambut Pak Yani dan kawan-kawannya di Pantai Padang. Kami sampai ke depan penginapannya. Kami waktu itu, atas nama Pemuda Rakyat. Saya, termasuk salah seorang yang dipercaya oleh Pemuda Rakyat untuk menyambut. Setelah itu, kami pun mulai bertugas untuk melayani perbekalan dan makanan bagi APRI. Kami yang menyediakan makanan untuk mereka. “[43]

Selain Ro, An yang baru keluar dari tahanan Padang Panjang, juga ikut menyambut kedatangan Ahmad Yani. Menurut An, ada satu kalimat penting yang diucapkan oleh Ahmad Yani, “Gerwani itu, adalah air. APRI adalah ikan. Jadi, air dan ikan, tidak dapat dipisahkan.”[44] Sambutan makin meriah ketika dinyanyikan lagu Sorak-Sorak Bergembira[45], beriringan dengan tebaran spanduk bertuliskan, “Selamat Datang APRI, Selamat Datang Tentara Pusat.” Mereka juga bergabung dengan APRI sambil meneriakan, “Selamat datang APRI!, Hidup Sukarno!, Hidup APRI!”[46]

Euforia kebebasan muncul di kalangan masyarakat yang kontra PRRI. Demikian juga para tahanan, lambat laun dibebaskan. Ro misalnya menuturkan, “Waktu itu, ada pembebasan PRRI besar-besaran. Kampung ibu kan dekat dengan tempat pembebasan itu. Kita waktu itu bersama-sama menyanyi, “Husein, Lubis, Simolon, Djambek!” Begitu, kami dulu.”[47] Masyarakat mulai merasakan perubahan. Ro misalnya menyaksikan banyak pengungsi dari Pasaman yang datang ke Bukittinggi untuk meminta perlindungan APRI. Berikut gambaran pada saat itu:

“Ada satu pengalaman yang paling tidak bisa ibu lupakan, yaitu pengungsian dari Pasaman. Orang-orang Pasaman itu kan diteror. Ada yang ditindas dengan banser, dibariskan, lalu digilaslah mereka. Ngeri itu. Ibu lihat, mereka berjalan, sampai ada yang anaknya meninggal di jalan. Lalu dibuatnya kuburan di tengah jalan, digali tanah dengan alat kayu, karena tidak ada cangkul, dikuburkannya anak di sana. Sang ibu, saat itu lemah sekali kondisinya, tapi ya bagaimana. Ada juga waktu itu yang sedang hamil, ikut mengungsi. Kami dari Pemuda Rakyat membantu mereka. Kami sambut mereka yang menggendong-gendong anak kecil, kami bagikan nasi. Kami minta periuk nasi dan beras kepada Departemen Sosial. Kami memasak dan memberi makan mereka. Lama tu, orang tu di sini. Kita bikinkan dapur umum. “[48]

Massa penentang PRRI di daerah Pasaman, tersebar di kampung-kampung. Semenjak kedatangan APRI, mereka mulai bersuara. Menurut keterangan Ro, di Kampung Pahambek, Koto Panjang, Payakumbuh, masyarakat bersama simpatisan PKI, Gerwani, dan Pemuda Rakyat, mulai menggalang kesatuan. Mereka membangun kekuatan dari bawah. Bahkan anak-anak usia belasan tahun, sudah diajak bergabung untuk sekedar menjadi penyemangat. Ro sendiri mengaku, usianya baru 16 tahun. Ia bergabung dengan Pemuda Rakyat, saat berusia 14 tahun. Tahun 1958 Ro sudah mulai aktif di kancah pergolakan, meski hanya sebatas membantu. Ia menuturkan:

“Memang waktu itu, ibu baru tamat Sekolah Rakyat (SR). Usia masih muda, ya 14 sampai 16 tahunlah. Kecil, ibu masih kecil. Tapi ibu sudah mulai mengerti politik yang begitu-gitu. Ya karena lingkungan ibu memang begitu. Jadi, kita didorong untuk ikut itu. Apalagi di hutan, kita disuruh membuat pamflet-pamflet. Kita bersama orang-orang anti PRRI, ikut mendukung. Kita juga waktu itu di hutan membuat pamflet penyambutan. Tulisannya, “Ganyang PRRI!” Ya begitulah, ramai-ramai. Kalau di kampung itu (Pahambek), 100% anti PRRI. Jadi anak-anak kecil itu aja, kalau masuk APRI, mereka bilang, “Bu ada tentara!” Kodenya juga ada, masing-masing. Misalnya bunyi burung, berarti tandanya gini. Nah kalau burung itu bunyinya, pit! pit! pit!, itu artinya, kita disuruh menjauh, begitu. Ada kalau laki-laki tuh, kan bunyinya seperti berburu, “ayo! ayo! ayo!!”, itu tandanya bisa berkumpul. Kalau aman tuh, “alo! alo! alo!” [49]

Ro juga menuturkan pengalamannya bahwa sejak masa Dewan Banteng hingga PRRI, dia merasakan begitu susah hidupnya. Dia dan keluarganya selalu dibayangi ketakutan. Kehidupan mulai aman sejak APRI datang dan melakukan ‘pembebasan’ hingga ke kampung-kampung. Berikut ini penuturannya.

“Tahun 1958 Sumatera Barat ni dibebaskan. Orang lari semua, dan kita yang masuk. Kita hidup aja, dikasih makan sama tentara. Kita tidak punya makanan. Cuma dari kecil itu, kita ditanamkan sifat untuk menjaga, tidak ada diantara kami yang mengambil. Di sini banyak rumah yang ditinggalkan. Banyak barangnya, banyak semuanya. Jadi, tidak benar, kalau ada tuduhan, kami mengambil barang-barang mereka. Buktinya, kita tidak mengambil. Jadi kalau waktu itu kita ingin kaya, mungkin kita dobrak saja. Begitu banyaknya rumah yang ditinggalkan, begitu banyak barang-barang mereka. Tidak ada manusia satupun waktu itu, kecuali kami dan tentara. Kita saja, rumah dikawal sama tentara“.[50]

Kedatangan tentara APRI juga dirasakan sebagai ‘penjaga nyawa’ bagi para penentang PRRI yang sebelumnya bersikap kejam terhadap penduduk yang disinyalir tidak mendukung. Mereka datang menangkap orang-orang yang pro pusat, baik tua maupun muda. Selain itu, mereka juga mengancam dengan berteriak, “Ada orang sini yang pro pusat?”[51] Menurut Ro, tindakan PRRI terhadap orang-orang yang kontra memang berlebihan. Sebagai penjelas, simak penuturannya berikut ini.

“Mereka itu ganas, akan bunuh kita. Kan tentara PRRI sama-sama bunuh kita. Kampung kita nih kan pelarian, jadi pemimpin-pemimpin yang anti Dewan Banteng dan PRRI, di sini tidak aman. Sebab di sini orang-orang PRRI datang menangkap. Banyak di sini yang terbunuh. Tentu, kalau indak salah ada tiga korban. Mereka ditangkap sama PRRI, langsung dibunuh. Nanda tahu, kalau mengenai peristiwa PRRI, mengenai pembakaran di Payakumbuh? Ada satu gedung sekolah yang berisi orang-orang yang anti Dewan Banteng. Mereka disiram bensin, ditembaki, lalu dibakar. Nah sudah tuh, sudah pembebasan, kita kunjungi makam mereka, bahkan kita kumpulkan tengkorak-tengkorak yang masih berserakan. Di Payakumbuh ko, ada di Situjuh. Ada kami menyanyi buat mereka. Kami punya lagu khusus untuk mengenang mereka yang meninggal oleh orang-orang Dewan Banteng.“[52]

Penuturan Ro dibenarkan Datuk Madjo Sati dalam tulisannya berikut.
“Merekalah yang mula-mula menerima neraka buatan manusia PRRI di Situjuh. Dikurung di rumah sekolah yang terletak di lembah sempit. Di senjakala dilempari dengan granat. Belum tjukup! Dihujani dengan peluru mitraliyur. Dan akhirnya dibakar pula. Agar jangan ada yang membuat peringatan untuk korban-korban itu. Agar hilang tak tentu rimbanya. Tapi Tuhan adil. Ada saksi-saksi hidup untuk itu. Jaham dan Laweh yang dapat lolos. Dan rakyat di kampung sekeliling itu. Mereka menamakan dirinya Dewan Banteng dan PRRI itu mencoba menghilangkan bekas-bekas pembunuhan itu dengan api.“[53]

Kondisi ini dibenarkan oleh Buya Muslim Saleh, tokoh agama di Padang Pariaman. Ia menuturkan bahwa sebenarnya pembunuhan itu, sebabnya jelas, yakni PKI dipandang atheis. PKI tidak dibenarkan oleh Masyumi dan ulama di Sumatera Barat. Dengan demikian, pembunuhan bukan semata-mata politik, tapi juga adat dan agama di Minangkabau.[54]

Menurut pengalaman Muslim Saleh, sejak 1957, banyak pemuda PKI di Padang yang secara terang-terangan mengaku anti agama. Ia sendiri sering berdebat dengan mereka, untuk membuktikan entitas Tuhan. Keberadaan para pemuda ini dianggap merusak aqidah Islam yang dipegang oleh masyarakat Minangakabau. Perdebatan itu biasanya dilakukan di Balai Pemuda Padang. Lebih lanjut dikatakan:

“Saya masih ingat, waktu itu saya bicara. “Jadi saudara katakan Tuhan itu tidak ada, buktikan!, Apakah saudara mengatakan yang tidak tampak=tidak ada?” Akhirnya katanya, “Dimana tuhan itu?”[55]

Perdebatan panjang yang diramu dalam kultur dan politik itulah, yang akhirnya menimbulkan tragedi pembunuhan terhadap orang-orang PKI. Sebagai contoh pembunuhan yang terjadi di Situjuh, memang meninggalkan kesan bagi orang-orang PKI dan ‘keluarganya’. Setiap tahun, semenjak peristiwa PRRI, mereka berziarah ke Payakumbuh. An misalnya mengatakan demikian.

“Kita yang menggali sejarah waktu itu. Kita setiap tahun datang berziarah ke tempat itu. Bermobil-mobil anggota kita, anggota Gerwani, Pemuda Rakyat, anggota PKI, anggota SOBSI berpuluh-puluh bis kita datang, ke tempat-tempat pembunuhan masal itu. Bukan kelihatan lagi. Kalau hari-hari nasional, atau hari ulang tahun partai, ziarah ke sana. Seluruh keluarga korban Dewan Banteng datang. Berapa banyak anak kita yang menjadi korban, berapa anak-anak kita yang jadi janda, berapa anak kita yang jadi yatim piatu oleh PRRI. “[56]

Begitu kuat hubungan yang terjalin antara PKI dengan Gerwani. Dari penuturan Ma, Ro, dan A, terlihat mereka begitu gigih membantu APRI. Sifat inilah yang diistilahkan bagak. Atas nama perjuangan, mereka memasuki ‘medan tantangan’. Mereka rela meninggalkan keluarga, demi slogan politik yang digemakan oleh pemimpin, “Berdiri di belakang Sukarno dan pemerintah pusat.”

E. Gerwani, PKI, dan APRI

Semenjak Dewan Banteng terbentuk, hubungan antara Gerwani di Sumatera Barat dengan pimpinan di pusat di Jakarta semakin erat. Hubungan ini semakin menguat dengan bersatunya Gerwani bersama ‘keluarga’ PKI yang lain: SOBSI, BTI, serta Pemuda Rakyat. Secara tidak langsung terbentuk mutualisme politik. Gerwani memberi kekuatan baru terhadap PKI. Terlebih pada saat itu, PKI mempunyai kekuatan legalitas formal yang kuat dalam pemerintahan. Sukarno menempatkan PKI sebagai ‘anak emas’.

Perubahan dan sepak terjang Gerwani makin terlihat matang. Pada mulanya, organisasi ini hanya bergerak di tataran sosial. Akan tetapi setelah menyatukan visi dengan PKI, berubah lebih vokal. Sikap ini mulai terlihat ketika menentang Dewan Banteng, dilanjutkan perlawanan yang keras terhadap PRRI. An, pimpinan Gerwani di Pariaman, misalnya mengatakan:

“Waktu itu Dewan Banteng sudah terbentuk. Kawan-kawan kita yang anti Dewan Banteng, seperti: PKI, SOBSI, BTI, tidak senang dengan pemerintah Dewan Banteng. Karena pembentukan Dewan Banteng itu sudah menentang keputusan pemerintah pusat. Kita dianaktirikan pusat, dia adalah anti Sukarno.“[57]

Pernyataan An menunjukan bahwa arah dan tujuan Gerwani dalam konflik daerah memang terlihat nyata. Secara tidak langsung, Gerwani telah mempengaruhi jalannya konflik. Bahkan semenjak kedatangan APRI, Gerwani ikut menjadi bagian kekuatan. Ini terlihat ketika Gerwani turut aktif, mulai penyambutan APRI hingga operasi PRRI. Bahkan dengan jelas, Ahmad Yani mengatakan, “Gerwani dan APRI ibarat ikan dan air yang tidak bisa dipisahkan.” Dalam hal ini, ada tiga faktor yang mempengaruhi.

Pertama, secara militer. Situasi yang menekan, membuat PKI semakin menguatkan barisan ‘keluarga’, termasuk Gerwani untuk mendukung kekuatannya. Kesamaan visi dan misi yang ditawarkan PKI, menjadi alat yang merekatkan persatuan ideologi antara PKI dengan Gerwani. Keterpaduan kekuatan ini, menjadi jalan yang mempermudah APRI menarik keduanya dalam operasi PRRI. APRI tidak mampu bergerak sendiri, tanpa bantuan Gerwani dan PKI. Kondisi ini terutama dikaitkan dengan medan Sumatera Barat. Sifat ekologi kewilayahan yang rumit, membuat APRI menjalankan strategi mobilisasi untuk mendapatkan kekuatan.

Kedua, secara kultural. Ideologi Gerwani yang dipengaruhi oleh pandangan gender, memberikan peluang kepada perempuan untuk tampil vokal, sama seperti laki-laki. Kemunculan Gerwani menjadi alat untuk menambah ketersediaan permintaan tenaga atas dasar gender. Ini artinya, perempuan dan laki-laki mempunyai kesamaan hak untuk menentang situasi yang dirasa tidak menguntungkan. Mengenai gambaran ini, Ma pernah mengatakan:

“Kami Gerwani dan PKI menganut sama rata-sama rasa di bidang perjuangan. Sama haknya perempuan dan laki-laki dalam partai. Jadi tidak ada diskriminasi. Memang PKI adalah satu-satunya partai yang meninggikan harkat dan martabat manusia.“[58]

Ketiga, dari segi sosial ekonomi. Gerwani menjadi pemegang kunci ekonomi dalam perang. Mereka inilah yang kemudian mengajak penduduk setempat, terutama kaum perempuan, untuk bekerja sama membantu APRI. Mereka membuat dapur umum dan menyediakan kebutuhan makanan. Keterlibatan Gerwani dalam konflik terbuka menunjukan bahwa perspektif yang menganggap bahwa laki-laki identik dengan perang dan maskulin, sementara perempuan hanya menjadi simbol maternal dan feminitas, tidak selalu benar. Elisabeth Badinter menuliskan bahwa dalam perang modern, perempuan juga selalu masuk menjadi backing pasukan. Mereka berjalan bersama laki-laki—kaburlah dimensi feminitas mereka.[59]

Untuk memperkuat ideologi, Gerwani terus dikader oleh PKI melalui ceramah-ceramah politik. Di Pariaman misalnya, dikenal tiga nama yang selalu memberikan ceramah, yakni: Mansur, Urip, dan Ummu Katimura. Ceramah biasanya dilakukan di masjid. Menjabat sebagai ketua panitia adalah Burhani Rasyid, pemuda setempat. An. Menuturkan demikian:

“Buru-buru pagi setelah memasak, cepat-cepat datang ke masjid untuk mendengarkan pidato. Apalagi si Urip, senang kita mendengarnya. Padahal dia buta huruf. Tapi kalau memberi penerangan, jangan sebut lagi dia. Pintarnya bukan main. “[60]

Dengan menguatnya opini menentang Dewan Banteng yang disuarakan PKI, Gerwani di Sumatera Barat gencar melakukan demontrasi. Dalam setiap konferensi yang diadakan oleh Gerwani, PKI dan ‘keluarganya’ selalu hadir. Kedatangan mereka bukan sebatas meramaikan rapat, tetapi juga memberikan pertimbangan bahkan menyetujui program yang diusung Gerwani.

Dalam konferensi daerah di Sumatera Barat misalnya, PKI memberi kata sambutan, menyambut isi laporan, menyokong atau menyetujui keputusan Gerwani setelah dibacakan di depan pimpinan daerah. Begitu juga SOBSI dan Pemuda Rakyat datang ke acara tersebut. Mereka memberi sambutan atas nama laporan umum yang diberikan sebagai laporan daerah.[61] Dari sinilah, terlihat hubungan yang erat antara Gerwani, PKI, Pemuda Rakyat, dan SOBSI. An misalnya mengatakan:

“Kita bersatu dengan Pemuda Rakyat juga SOBSI. Dengan PKI, kita juga kita satu ide, satu perjuangan. Jadi kita sama-sama seirama. Kantor kita gede-gede. Dekat pinggir laut, juga di Pasar kota Padang itu.“[62]

Dukungan besar dari PKI itulah, yang membuat Gerwani tampil radikal membantu APRI. Dua kepentingan—PKI dan APRI berjalan apik, dengan kekuatan Gerwani. Kenyataan ini menunjukan, perang tidak selalu dianggap sebagai ‘industri’ yang ‘mencetak’ pejuang laki-laki (warriors). Asosiasi yang muncul bahwa perempuan adalah simbol kedamaian (beautiful souls), yang selalu diam, tenang, mengalah, sementara laki-laki diasosiasikan sebagai ‘perang’ yang sarat tantangan, tidak selalu benar.

Pernyataan tersebut terlalu patriarki dan cenderung mengarah pada sifat dominasi. Terlebih ketika perang juga dianggap sebagai ekspresi karakter maskulin, nilai-nilai feminitas dengan sendirinya akan terpinggirkan. Laki-laki akan selalu mengganggap dirinya menang atas perempuan. Tidak berlebihan agaknya, kalau Cyntia Enloe mengatakan, Laki-laki setelah perang menjadi pejuang, sementara perempuan hanya menjadi pecundang.” Akan tetapi, ‘sejarah sudah didikte’ untuk ‘mengamini’ pandangan ini. Lebih jauh mengenai persoalan ini, Helena Careiras menuliskan:

“Stereotypes of men as “just warriors” and women as “beautiful soul” have been used to secure woman’s status as noncombatans and men identity as warriors”. However, since war has usually been defined as a male activity and higly valued masculine characteristic are often associated with it, the image of women warriors has been seen as inherently unsettling, entailling symbolic rapture with the dominant gender order based on sparation of male and female.” [63] (“Stereotip laki-laki sebagai pejuang dan perempuan sebagai jiwa yang lembut, telah digunakan untuk menilai status perempuan sebagai seorang yang bukan pejuang dan identitas laki-laki sebagai pejuang. Bagaimanapun sejak dulu, perang selalu didefiniskan sebagai aktivitas laki-laki yang diposisikan secara tinggi untuk menilai karakteristik maskulin atau sering diasosiasikan dengan hal-hal yang serupa. Imej perempuan sebagai pejuang, dinilai tidak tidak pada tempatnya dan mengguncang pesona simbolik dengan dominasi aturan gender yang didasarkan pada pemisahan laki-laki dan perempuan.“)

Stereotip yang mendikotomi laki-laki dan perempuan akan menciptakan identitas timpang yang semakin meminggirkan kedudukan perempuan. Perang jangan sampai dijadikan alat untuk ‘membunuh’ nilai-nilai ‘kedirian’ yang terdapat pada laki-laki dan perempuan. Laki-laki dan perempuan dapat memainkan peran yang sejalan, tanpa harus meninggalkan dimensi kodrati masing-masing. Demikian pula dalam perang, tidak selalu laki-laki lebih kuat dan sebaliknya perempuan lemah.

F. Kesimpulan

Keterlibatan Gerwani dalam konflik selama pergolakan tahun 1956-1961, menandai adanya kuasa politik perempuan Minangakabau. Dari sisi ideologi, mereka menginduk kepada PKI untuk menentang Dewan Banteng dan PRRI yang dianggap sebagai embrio pembentukan negara baru. Secara historis, keterlibatan Gerwani dalam konflik, mempengaruhi jalannya pergolakan. Bahkan dapat dikatakan, tanpa Gerwani, PKI dan APRI bekum tentu mempunyai basis kekuatan yang mapan. Ini dikarenakan dalam situasi konflik, Gerwani bukan hanya tampil sebagai aktor yang mendukung basis militer, tetapi juga sebagai alat penggerak dalam kebutuhan ekonomi.

Daftar Pustaka

Koran

Harian Rakjat, 2 Juli 1958.

Harian Rakjat, 2 September 1958.

Harian Rakjat, 20 Juni 1957.

Harian Rakjat, 23 Desember 1957.

Harian Rakjat, 7 Mei 1958.

Wawancara

An, Bukittinggi, 29 Oktober 2008, Pk. 21.00-22.30 WIB dan Padang, Kamis, 24 Desember 2008, Pk. 20.00-22.00 WIB.

Buya Muslim Saleh, 23 Desember 2008 08 Pk 16.15-17.10.

Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

Ro, Bukittinggi, 2 November 2008, Pk. 08.00-09.30 WIB.

Syafri Segeh, Padang, 29 September 2008, Pk. 11.00-12.30 WIB.

Buku

Carreiras, Helena Gender and Militery; Women in the Armed Forces of Western Democracies, Routledge: Taylor and Francis Group, 2001.

Badinter, Elisabeth Unopposite Sex; The of the Gender Battle, (New York: Harper and Row Publisher, 1989.

Datuk Majo Sati, Aku Menggugat, Jakarta: C.V.R. Hamzah dan Co, 1959.

Eleonora, Saskia Wieringa, The Politization of Gender Realations in Indonesia Women’s Movement and Gerwani until the New Order State, terj. Hersri Setiawan, Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia, Jakarta: Garba Budaya, 1999.

Gusti Asnan, Memikir Ulang Regionalisme Sumatera Barat Tahun 1950-an, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007.

Kahin, Audrey Dari Pemberontakan ke Integrasi; Sumatera Barat dan Politik Indonesia 1926-1998, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005.


[1] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

[2] Saskia Eleonora Wieringa, The Politization of Gender Realations in Indonesia Women’s Movement and Gerwani until the New Order State, terj. Hersri Setiawan, Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia, (Jakarta: Garba Budaya, 1999).

[3] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

[4] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

[5] Datuk Majo Sati, Aku Menggugat, (Jakarta: C.V.R. Hamzah dan Co, 1959): 69.

[6] Ibid.

[7] Simbolon mengeluarkan pernyataan terbuka yang berbunyi, “Pemerintah pusat yang jelek dan korup, dan tuntutan terhadap otonomi serta desentralisasi adalah isu-isu yang dihangatkan setahun lalu. Sekarang kami membawa masyarakat pada perlawanan yang terbuka terhadap komunis” Lihat Gusti Asnan, Ulang Regionalisme Sumatera Barat Tahun 1950-an, op.cit.: 187.

[8] Ketiga wilayah tersebut berada di kota Payakumbuh.

[9] Harian Rakjat, 20 Juni 1957.

[10] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

[11] Padang Pariaman adalah wilayah di Sumatera Barat, yang menjadi basis PKI. Salah satu wilayah yang menjadi pusat kegiatan adalah Sungai Sariak.

[12] Wawancara An, Padang, Kamis, 24 Desember 2008, Pk. 20.00-22.00 WIB.

[13] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

[14] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

[15] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

[16] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

[17] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

[18] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

[19] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

[20] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

[21] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

[22] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

[23] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

[24] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB. Keterangan lain mengenai situasi demontrasi di Bukittinggi, lihat Harian Rakjat, 2 September 1958.

[25] Djamhur Hamzah adalah juru bicara komite propinsi dari Komite PKI di Sumatera Tengah. Keterangan lebih lanjut, baca Audrey Kahin, Dari Pemberontakan ke Integrasi; Sumatera Barat dan Politik Indonesia 1926-1998, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005): 295. Menurut keterangan Ma, pada saat ditangkap, Djamhur Hamzah masih berstatus sebagai tunangannya. Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

[26] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

[27] Wawancara An, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 22.00-23.30 WIB.

[28] Syafri Segeh, Padang, 29 September 2008, Pk. 11.00-12.30 WIB.

[29] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

[30] Wawancara An, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 22.00-23.30 WIB.

[31] Wawancara An, Bukittinggi, 2 November 2008, Pk. 08.00-09.30 WIB.

[32] Wawancara An, Bukittinggi, 2 November 2008, Pk. 08.00-09.30 WIB. Mengenai keterlibatan An dalam demontrasi melawan Dewan Banteng, juga diberitakan dalam Harian Rakjat. Dalam keterangan, dituliskan “Dalam demontrasi patriotik rakyat Pariaman, Dewan Banteng melancarkan balasan dengan menangkap pemimpin-pemimpinnya yang dicintai oleh wanita Pariaman. Mereka diantaranya adalah An dan Djawani. Keterangan lengkap.” lihat Harian Rakjat, 7 Mei 1958.

[33] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

[34] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

[35] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

[36] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

[37] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

[38] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

[39] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

[40] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

[41] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

[42] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.

[43] Wawancara Ro, Bukittinggi, 2 November 2008, Pk. 08.00 WIB.

[44] Wawancara An, Bukittinggi, 2 November 2008, Pk. 08.00 WIB.

[45] Sorak-Sorak Bergembira, bunyi liriknya adalah sebagai berikut, “Sorak-sorak bergembira/Bergembira semua/Sudah bebas negeri kita/Indonesia merdeka/Indonesia merdeka, merdeka!/Menuju bahagia, bahagia!/ Itulah Indonesia, untuk selama-lamanya.


[46] Wawancara An, Padang, 24 Desember 2008, Pk. 21.00-22.30 WIB.
[47] Wawancara Ro, Bukittinggi, 2 November 2008, Pk. 08.00-09.00 WIB.
[48] Wawancara Ro, Bukittinggi, 2 November 2008, Pk. 08.00-09.00 WIB.
[49] Wawancara Ro, Bukittinggi, 2 November 2008, Pk. 08.00-09.00 WIB.
[50] Wawancara Ro, Bukittinggi, 2 November 2008, Pk. 08.00-09.00 WIB.
[51] Wawancara Ro, Bukittinggi, 2 November 2008, Pk. 08.00-09.00 WIB.
[52] Wawancara Ro, Bukittinggi, 2 November 2008, Pk. 08.00-09.00 WIB.

Peristiwa di Situjuh dan Suliki ini, mengundang reaksi keras dari PKI dan ‘keluarganya’. Sebagai contoh, Pemuda Rakyat cabang Bukittinggi, menuntut kepada pemerintah atas pembunuhan masal yang dilakukan pada 23 Mei di Situjuh dan 27 Mei di Suliki. Tuntutan berbunyi: “Kami menuntut kepada pemerintah supaya tanggal 23 Mei dan 28 Mei dijadikan sebagai hari berkabung nasional; Kami menuntut kepada pemerintah agar memberi jaminan kepada keluarga-keluarga korban tersebut; Kami menyerukan kepada pemuda dan rakyat supaya memberi bantuan kepada keluarga korban; Kami menyerukan agar nasib para pengungsi lebih diperhatikan; Kami menyerukan kepada pemerintah agar segera menempatkan kerja, memberi makanan, pakaian, alat-alat lain yang layak bagi mereka; kami mengusulkan agar menyekolahkan anak-anak mereka tanpa pembayaran uang sekolah dan mendapatkan bantuan alat-alat sekolah; Kami menuntut agar pemerintah menghukum secara militer pada orang yang bertanggungjawab terhadap pembunuhan dan penyiksaan; dan Memecat pegawai pro Dewan Banteng/PRRI yang dinaikan pangkatnya.” Keterangan lanjut, baca Harian Rakjat, 2 Juli 1958.
[53] Datuk Majo Sati, op.cit: 8.
[54] Wawancara Buya Muslim Saleh, 23 Desember 2008 08 Pk 16.15-17.10.
[55] Wawancara Buya Muslim Saleh, 23 Desember 2008 08 Pk 16.15-17.10.
[56] Wawancara An, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 21.30-23.00 WIB.
[57] Wawancara An, Padang, 24 Desember 2008, Pk. 20.00-22.00 WIB
[58] Wawancara Ma, Bukittinggi, 1 November 2008, Pk. 20.00-21.30 WIB.
[59] Elisabeth Badinter, Unopposite Sex; The of the Gender Battle, (New York: Harper and Row Publisher, 1989): 158.
[60] Wawancara An, Padang, 24 Desember 2008, Pk. 20.00-22.00 WIB. Pemberitaan mengenai keterlibatan Ma dan Nadiar, juga diberikan dalam Harian Rakjat, 23 Desember 1957.
[61] Wawancara An, Padang, 24 Desember 2008, Pk. 20.00-22.00 WIB.
[62] Wawancara An, Padang, 24 Desember 2008, Pk. 20.00-22.00 WIB.
[63] Keterangan yang lebih menarik, baca Helena Carreiras, Gender and Militery; Women in the Armed Forces of Western Democracies, (Routledge: Taylor and Francis Group, 2001): 5.
Share:

Label

Arsip Blog

Artikel Terbaru